Kamis, 01 Agustus 2013

[cerita terjemahan] Never Again



Rating: 9.3/10 (1089 votes cast)
Credit to - creepypasta
Orginally Translated by : RainiLa


Aku berumur 17 saat dia datang. Aku sudah tinggal dengan ibuku yang kasar selama 17 tahun, tahun-tahun yang menyakitkan. Saat itu tengah malam, dan ibuku sudah tidur, jadi saat aku mendengar tiga ketukan lembut dari luar pintu, aku yang membukanya. Seorang gadis aneh berdiri disana, dengan pipi yang pucat, rambut pirang yang di kepang kuda, gaun merah muda yang sobek di tepinya, kaki telanjang yang membiru karena dinginnya musim salju, dan sepasang mata hitam. Lebih tepatnya, mata hitam yang pekat. Segera aku mempersilhakannya masuk, berpikir bagaimana pakaian yang ia kenakan sangat tidak layak. Tak berapa lama kemudian aku sadar, kenapa dia tidak menggigil, atau kenapa dia ada disini. Aku menyuruhnya duduk di ruang tamu, membungkus tubuh kecilnya dengan sehelai kain rajutan nenekku. Dia memegangnya, meskipun hal itu tak terlalu berefek untuknya, dan aku tersenyum.
“Siapa namamu, manis?”
Mulanya dia tak menjawab, hanya melihatku. Aku mulai merasa tak nyaman oleh tatapan kelamnya saat dia menggerakkan bibir dan berbicara dengan pelan.
“Lacy Morgan.”
Aku mengangguk. Tersenyum lagi.
“Kau bisa bermalam disini malam ini, Lacy.” Kataku sambil menunjuk ke sofa. Dia meringkuk di atas sofa, mata hitamnya masih menatap ke arahku, dan aku keluar ruangan. Malam itu aku tidur sangat nyenyak, sama sekali tidak mengkhawatirkan kalau-kalau ibu menghajarku atau gadis aneh yang tidur di sofa.
Pagi harinya, aku berjalan ke dapur, aku disambut dengan lemparan cangkir kopi yang mengenai bahuku. Aku berteriak, menatap ibuku.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa ada kotoran di sofa?” teriaknya, membuatku bingung. Setelah menyelidiki semuanya, aku menyadari kalau Lacy telah lenyap, satu-satunya bukti tentang keberadaannya hanyalah kotoran yang dia tinggalkan dari gaun atau kakinya. Aku yang harus bertanggung jawab, aku mendapat satu tamparan keras di pipi, lalu kemudian aku pergi ke sekolah. Sementara di tengah perjalanan aku mendengar sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang.
“Lacy Morgan ditemukan meninggal tadi malam.”
Aku berjalan hanya untuk menunggu lebih banyak berita tentang kematian itu, tapi hasilnya nihil. Setelah sampai di rumah, berita itu disiarkan secara langsung.
“Lacy Morgan, usia 6 tahun, telah dikabarkan meninggal jam 7 tadi malam. Tubuhnya di temukan di kebun belakang, dikubur dalam keadaan mengenakan gaun merah muda. Sejauh ini tak ada tanda-tanda keberadaan ibunya, marissa Morgan, yang di curigai sebagai pelaku pembunuhan. Marissa di laporkan telah menyiksa Lacy beberapa kali, dan mungkin dia yang bertanggung jawab atas kematian Lacy.”
Setelah itu, foto Lacy terpampang di layar. Dia nampak nyaris seperti saat dia bertemu denganku, rambut pirang di kuncir kuda, gaun merah muda, wajah pucat. Hanya saja, pipinya tidak pucat...dan matanya berwarna biru muda. Mungkin bagi sebagian besar orang hal ini tidak penting, tapi bagiku sebaliknya. Dia telah meninggal sebelum dia datang ke rumahku, itu jika yang dibilang oleh reporter itu benar. Dia telah meninggal beberapa jam sebelumnya. Aku mencoba untuk melupakannya, dan mengurus urusanku sendiri. Aku pergi tidur lebih awal hanya untuk menghindari ibuku. Sekitar tengah malam aku terbangun karena jar-jari dingin yang menyentuh memar di pipiku. Aku menarik nafas panjang, bersandar ke sepasang tangan kecil.
“Tidak lagi.” Lacy berbisik, sebelum tangannya menghilang. Belum genap sepuluh menit kemudian, aku mendengar teriakan ibuku. Aku berlari ke kamar, hampir pingsan karena apa yang aku lihat.
Ibuku menjerit liar di atas tempat tidur, sesosok makhluk kecil membenamkan wajahnya ke dalam dada ibuku. Aku bisa mendengar suara daging yang robek, dan jeritan-jeritan ibuku makin keras terdengar. Aku berharap aku tak pernah terbangun. Kemudian aku berkata pada diriku sendiri kalau aku pasti bermimpi, tapi ini kenyataan. Saat Lacy menarik kepalanya dari lubang rongga dada ibuku, aku bisa melihat gigi-giginya yang tajam, berkilauan dalam kegelapan. Berkilau karena darah ibuku. Dia tersenyum polos ke arahku selama beberapa detik, sebelum memetahkan leher ibuku dengan cepat. saat itu aku benar-benar pingsan. Saat aku sadar, aku sudah berada di tempat tidurku. Aku berjalan ke kamar ibuku, rasa penasaran tidak wajar menyergapku. Saat membuka pintu, kamar itu kosong. Tempat tidurnya sudah rapi, seakan ibuku berangkat kerja lebih awal. Satu-satunya kejanggalan hanya jejak kaki kotor anak kecil, dan jendela yang terbuka, menunjukkan kalau Lacy benar-benar berkunjung kesini. Aku tak pernah melihat ibuku lagi, dan juga kau tak pernah merindukannya. Belakangan, aku menyadari kalau anak gadis tetangga sebelah punya bekas goresan dan memar-memar di lengannya. Aku mulai mengamati rumah mereka. Dan di hari yang lain aku melihat sesuatu yang aneh: seorang gadis kecil berlari dengan kaki telanjang melewati kebun belakang ke pintu belakang rumha mereka. Saat itu tengah malam, jadi aku tak terlalu yakin dengan apa yang aku lihat, tapi aku merasa dia melihatku dengan matanya yang hitam. Dan aku bersumpah dia mengucapkan dua kata kepadaku.
Tidak lagi.

1 komentar:

Aprillia Kartika mengatakan...

Tidak lagi.. :s