Sabtu, 15 Juni 2013

[Cerita Terjemahan] I'm Not Scared (+ Ebook)



I'm Not Scared
Rating: 8.3/10 (111 votes cast)
Credit To – Reece Ayers
Orginally Translated by : RainiLa

Please Take Out With Proper Credit !!!

Aku harus berani, tak tau untuk berapa lama lagi sampai “dia” menemukanku.

Aku Daniel Lockwood, umur 20 tahun, berkebangsaan Inggris, dan aku tinggal di China selama 18 bulan terakhir. Ibuku bernama Deborah Lockwood. Aku mengetik tulisan ini di iPad. Sekarang sekitar jam 10.45 malam, selasa, 30 April 2013. Aku tak yakin dimana tepatnya lokasiku saat ini, aku berada di suatu tempat di selatan pegunungan Beijing, di batas Provinsi Hebei, dekat dengan desa kecil bernama Shidu.

Jari-jariku gemetar saat dengan diam-diam aku mengetik di atas layar iPad, dan air mata mengalir dari kedua mataku. Terdengar suara samar saat jari-jariku menyentuh permukaan tablet yang halus. Satu rokok tergantung lemah di sela-sela bibirku. Tempat ini sangat tak bersahabat, bukan sejenis makam yang aku harapkan.

Mohon maklumi jika ada kesalahan pengetikan atau kata yang tidak teratur, penglihatanku agak kabur dan pikiranku penuh dengan kengerian yang tak  bisa di bayangkan. Bukankah ini konyol, bahkan dalam kematian, otak masih bisa terfokus pada hal sepele seperti grammar?

Bagaimanapun...ini adalah warisanku. Jika kau membacanya, aku berharap pada Tuhan agar kau merasa nyaman dan aman, baik di dalam ruangan yang tertutup atau di suatu daerah padat penduduk. Aku harap teman-teman dan keluargamu ada di dekatmu atau barangkali hewan peliharaanmu meringkuk di pangkuanmu. Kisah yang akan aku ceritakan tak di peruntukkan bagi yang punya lemah jantung, cerita ini juga bukan cerita yang dibuat-buat atau di besar-besarkan. Kisah ini bercerita mengenai jam-jam terakhir di kehidupan seorang lelaki yang putus asa, salah satunya di penuhi dengan horror. Ketakutan dan pengalaman yang tak ia harapakan datang dari musuh terburuknya. Tujuan dari catatan terakhir ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran, agar kisah ini di dokumentasikan dan memberi bukti bahwa di dunia ini ada hal-hal yang masih tak kita ketahui—dan yang belum kita ungkap. Masih ada hal-hal di dunia ini yang belum muncul dari kegelapan untuk menampakkan wajah-wajah mereka yang aneh dan mengerikan. Tapi aku tak lagi takut.

Jika kau membaca kisah ini, bisa dipastikan kalau aku sudah mati.

Sekitar 11 jam yang lalu,  aku dan 4 teman memulai “petualangan kecil” di luar area aman menuju alam liar. Aku tak akan membuang-buang waktu untuk flashback dan semacamnya, hal yang harus kau tau adalah kami berlima adalah petualang yang pemberani, sekumpulan teman dekat yang menikmati kebersamaan satu sama lain dan seringkali menikmati bersepedah dan menjelajah bersama-sama. Dari kami berlima, hanya aku yang masih suka berpetualang, dan akan terus seperti itu sampai aku menua.

Petualangan khusus ini mendaratkan kami di Shidu, sebuah pedesaan kecil jauh di pinggiran kota Beijing, China. Shidu terkenal karena pemandangan yang indah, kegiatan petualangan, dan ketenangannya. Shidu juga terkenal karena kaya akan cerita rakyat yang beragam, sebuah area di Asia yang seringkali menarik minat crypto-zoologist dari seluruh dunia.

Jika kau tinggal cukup lama di suatu negara yang asing, dan memberi cukup minat pada tradisinya, kau akan menjangkau lebih dalam ke pondasi budayanya, belajar mengenai makanan dan sejarahnya serta cara bersikapnya. Pada akhirnya kau akan menemukan aspek budaya yang seringkali menjadi fitur yang sangat unik—dongeng dan cerita mengenai binatang dan hantu yang bersembunyi di hutan atau di bawah tempat tidurmu. Goblin dan hantu yang akan menghisap jiwamu melalui mulutnya, atau menyeretmu sampai kau berteriak sambil menendang-nendang ke seluruh bumi sampai kau mencapai inti neraka. Kau akan mempelajari kuburan dan ritual, takhayul dan mantra, kutukan dan hantu. Hal semacam itu menambah pesona tersendiri pada suatu budaya dan budaya China penuh dengan legenda semacam itu.

Aku telah di renggut dari realitas menuju ranah legenda. Aku tak lagi skeptis pada bayangan di lemari atau suara berderik dari loteng. Sekarang aku percaya bahwa ada orang-orang telah dirasuki atau diculik atau diteliti atau dihantui atau dimakan atau dikotori dengan cara yang mengerikan oleh sesuatu yang mengerikan pula. Kini aku tau bahwa hal itu memang nyata. Tapi aku tak lagi takut. Aku hanya berharap bahwa ada Tuhan yang bisa memberiku suatu bentuk kedamaian setelah cobaan ini berakhir...

Kami berangkat dari pusat kota Beijing sekitar pukul 11 pagi, kami sangat bersemangat dan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk 2 hari kedepan di gunung, berbekal beberapa makanan ringan, kamera, dan semangat berpetualang. Ketika hutan beton di belakang kami perlahan memudar dalam barisan kabut tebal yang acapkali menutupi kota, kami berlima menikmati perjalanan panjang yang nyaman melalui pedesaan China, melewati padang terbuka dan lautan gubuk-gubuk kayu reot, yang menjadi semakin jarang ketika kami memasuki lembah dan ngarai miring yang memutari area barat daya Beijing.

Persinggahan pertama kami di rumah singgah, kami bisa merenggangkan otot-otot kaki kami, cuci muka dan membuang barang-barang yang tidak diperlukan. Aku sama sekali tak berniat untuk membuat kisah ini menjadi cerita horror klise dengan membuat klaim palsu atas tuan tanah atau peringatan dari penduduk setempat, karena tak satupun dari hal itu yang terjadi. Tempat ini hanya rumah singgah biasa di pinggiran pegunungan biasa, di huni oleh orang biasa yang menjalani kehidupan biasa. Tak ada yang spesial tentang tempat ini dulu.

Setelah mandi kilat, satu gigitan makanan dan satu batang rokok, kami masuk kembali ke dalam bis dan memulai perjalanan singkat menuju ambang gunung, yang akan membawa kami menuju bagian paling tak terjamah dari gunung ini. Pukul 5.20 sore, kami sampai. Sopir, orang lokal yang berwatak keras namun menyenangkan, bilang pada kami untuk menelponnya 30 menit sebelum minta di jemput. Kami menimpali dengan memberitahukan padanya kalau pendakian kami akan berakhir sekitar pukul 9 malam.

Kupikir dia merasa khawatir sekarang.

Kami sengaja memulai pendakian agak terlambat dari biasanya, untuk menghindari berpapasan dengan gerombolan wisatawan lain, tapi nyatanya tak seterlambat biasanya. Cahaya matahari sudah memudar di langit, tanda bahwa sebentar lagi pudaran cahaya akan segera di telan kegelapan. Beberapa gerombolan pelancong terakhir muncul dari jalanan sempit di depan, melihat kami dengan raut khawatir ketika dengan langkah terseok kami melewati mereka. Kami sudah pernah melewati medan berat sebelumnya, jadi kami tak terlalu memikirkan akibat dari pendakian malam nanti.

Satu jam pertama saat pendakian relatif ringan, dengan ringan melangkah di atas lereng, dikelilingi oleh ukiran batu dan simbol-simbol yang diterjemahkan dengan buruk. Seluruh kios dan pasar yang mulanya menyertai perjalanan kami, sudah mulai jarang sekarang, menyisakan satu atau dua penduduk yang mengumpulkan renda dan pernak-pernik murah untuk di jual keesokan harinya. Kami berpapasan dengan beberapa orang saja, mereka—lagi-lagi—melihat kami dengan pandangan khawatir seperti sebelumnya. Area gunung ditelan oleh bayangan gelap, sementara bagian lain sedang menikmati kilauan cahaya matahari terakhir.

Secara bertahap rute pendakian makin sulit dan jalanan pun makin sempit, bersamaan dengan itu langkah kaki kami makin jarang. Setelah satu jam setengah mendaki, kami menghampiri papan petunjuk lusuh yang memberitahukan dimana posisi kami sekarang ini, dan jarak dari puncak gunung. Tak terlalu jauh.

Satu-satunya suara yang terdengar hanya suara kami yang berdiskusi tentang aktivitas esok hari—arung jeram dan berkuda. Kesenjangan dalam percakapan akan menimbulkan keheningan yang mencekam. Bahkan disini tak ada suara keresak pepohonan, derik jangkrik, ataupun kicau burung. Hanya keheningan. Bahkan suara langkah kaki kami pun tenggelam oleh luasnya gunung.

Makin dekat dengan puncak gunung, kami mampir ke pagoda tradisional kecil. Jalan bercabang dua disini. Satu mengarah lurus ke depan, mengarah ke atas gunung menuju puncaknya. Aku ingat dari peta kalau jalan ini juga merupakan rute keluar, yang akhirnya melandai turun dan memotong jalan dekat dengan lembah. Jalan yang satunya lagi menyimpang di sisi kanan kami. Jalan ini bernama “jalan awan”, curam dan membimbing menuju dataran setinggi 200 meter.

Kami menghabiskan beberapa saat untuk berunding, apa harus mengambil jalan kecil untuk melihat matahari terbenam dari salah satu dataran tinggi di gunung. Sarah dan Thomas, dua dari kami, memutuskan untuk beristirahat di Pagoda. Sisanya, dengan asumsi bahwa mereka ingin ketenangan, mengambil nafas dan mulai berjalan menuju dataran tinggi.

Tak banyak jalan memutar, kira-kira 10 menit tiap jalannya, tapi tetap melelahkan. Tak satupun dari kami berbicara banyak di perjalanan, jalanan terlalu bergelombang sehingga susah untuk bercakap-cakap, tapi di puncak dataran tinggi, kami di suguhi pemandangan alam yang mengagumkan. Gunung-gunung membentang sejauh mata memandang. Bahkan dalam keremangan cahaya, aku bisa melihat kejauhan. Jajaran perbukitan nampak sangat panjang dan tanda-tanda awal musim panas mulai tampak di sepanjang lereng. Kami menghabiskan 5 menit lebih untuk beristirahat. Aku menikmati rokok perayaan, beristirahat di bawah cemara dimana dataran tinggi itu berada, mengagumi pemandangan indah di depanku.

Mataku tak bisa beralih dari pemandangan itu. Bukit-bukit nampak memutar dan beriak di sekitarku, bukan dengan cara yang mengancam, namun dengan tampilan yang megah dan indah. Hingga temanku—Jay—menyenggolku hingga aku terbangun dari khayalanku, menekan puntung rokok ke tanah dan memulai perjalanan kembali menuju ke Pagoda.

Saat ini Matahari menggantung sangat rendah, menghilang ke balik jajaran Gunung ketika kami turun ke bawah. Secara perlahan, Pagoda mulai muncul dari balik semak-semak. Sarah dan Thomas tak lagi ada disana. Perkiraan pertamaku adalah bahwa mereka menghampiri panggilan alam dan pergi ke semak-semak terdekat, atau mungkin saja mereka telah melnajutkan perjalanan tanpa kami.

Lalu Clare melihatnya. Lalu dia menjerit. Lalu kami semua melihatnya.

Sebuah kepala manusia, tumbuh panjang, rambut kusut berwarna pirang dengan sepuhan darah tergeletak di areal belakang Pagoda. Potongan daging nampak akan terlepas dari tempatnya semula. Seolah-olah di buat menggunakan benda tumpul, atau mungkin oleh cakar hewan raksasa. Sudah jelas kalau itu adalah kepala Sarah. Sisa tubuh yang lainnya tak terlihat. Coretan panjang merah mengotori lantai kayu Pagoda, mengarah jauh ke arah dedaunan. Mataku bergeser dari kekacauan berdarah ini menuju ke arah kiri depanku, dimana potongan rahang tergeletak ganjil disana. Urat daging beludru nampak mencuat dari sesuatu. Apapun atau siapapun itu pastilah telah menyobek paksa dari pemiliknya dengan gerakan kilat dan kekuatan luar biasa.

Aku mulai merasakan asam di pangkal lidahku, seakan sisa-sisa makananku memaksa keluar melalui perut ke kerongkongan. Aku hampir tak bisa membedakan antara suara teriakan temanku dan suara muntahan yang bercampur empedu yang keluar dari mulutku. Perutku telah mengosongkan dirinya sendiri, hidung dan mataku pun demikian. Seseorang meraih bahuku dan meneriakkan kata-kata gila nan samar. Secara naluriah kakiku membawaku keluar dari mimpi buruk menuju jalan yang belum terjelajah di depan.

Suara nafas berat dan langkah-langkah janggal menggema melalui pepohonan dan memantul di permukaan batu ke arah kami. Senja mulai menghilang, dan beberapa bintang bersinar dalam kegelapan di atasku. Kami berlari selama beberapa menit, dan jatuh di semak-semak saat kami benar-benar kehilangan arah, semata-mata kami berlari tanpa tujuan karena  didorong oleh adrenalin kami.

Jalanan sangat sempit disini, hampir tidak ada cukup ruang bagi dua orang untuk berdiri berdampingan. Aku melirik melewati bahuku, memastikan bahwa yang lain berjalan tak jauh di belakangku. Raut panik mereka hanya membuatku makin ketakutan. Setelah berlari selama dua puluh detik, kami diarahkan pada belokan tajam ke arah kiri di sekitar tumpukan bebatuan besar, setelah itu aku berhenti—membeku.

Ketakutan adalah emosi yang susah untuk di gambarkan. Hal yang dapat di telusuri sejak spesies manusia paling awal terbentuk. Rasa takut membuat bulu kami merenggang sehingga sosok kami menjadi menakutkan. Ini perintah untuk melawan atau naluri untuk bertahan, di rancang untuk menjaga eksistensi kita saat berhadapan dengan sesuatu yang mengancam. Takut juga dapat melumpuhkan manusia, reaksi terhadap rangsangan hal-hal menakutkan yang kurang di pahami oleh orang-orang yang mempelajarinya.

Reaksi terakhir, menjadi lumpuh, adalah respon tak menguntungkan saat berhadapan dengan terror di luar sana. Jalan di depan sangat panjang dan sempit. Jalanan itu dikelilingi oleh pepohonan, sebagian besar menggantung rendah di sepanjang garis jalan. Kira-kira 100 meter jauhnya di jalanan sempit, tengah berdiri—atau lebih tepatnya “membungkuk”—seuatu sosok. Aku berkesimpulan bahwa itu bukan manusia. Dia terlalu tinggi, mungkin tingginya mencapai 8 kaki, bahkan dengan posturnya yang bungkuk itu. Lengan dan kakinya sangat tidak proporsional,memanjang hampir ke tanah. Aku tak terlalu bisa menggambarkan, terlalu gelap, hanya bisa menangkap bentuk badannya. Satu hal yang aku perhatikan, bagaimanapun, adalah bahwa ia menggenggam sesuatu di tangan kanannya. Dari sesuatu itu menetes cairan yang sangat kental, menetes dan menggenang ke tanah di bawahnya.

Aku yakin jika temanku yang lain juga menyaksikan penampakan mengerikan yang sama denganku ; aku bisa merasakan mereka berdiri tak jauh dariku. Bahkan di saat seperti ini, kedekatan kami menimbulkan sedikit rasa aman. Aku tak yakin sudah berapa lama kami berdiri disana. Mungkin sudah beberapa menit lamanya. Aku tak tau bagaimana, tapi aku yakin sedang mengamati apapun itu yang ada di depan sana. Kehampaan memenuhi area tersebut, seperti sebuah tirai kegelapan, sangat janggal.

“Dia” menjatuhkan sesuatu yang ia genggam di sela cakar-cakarnya, merenggangkan jemari kurusnya hingga menggaruk tanah. Objek itu, yang aku pikir merupakan potongan daging, berhamburan ke tanah. “Makhluk” itu mulai mengerang ketika ia bergerak.

Lalu “dia” mulai berlari ke arah kami. Aku bergegas menggerakkan kakiku ke arah berlawanan, mendorong temanku yang lain dengan egois hanya agar aku bisa berlari lebih dulu. Kini “Makhluk”itu memekik. Suaranya  membuat bergidik ketika ia makin dekat. Aku telah berlari selama beberapa detik ketika aku mendengar suara jeritan yang berbeda. Aku hanya bisa menebak-nebak jika makhluk itu menangkap Jay, dari jeritan lemah itu—jelas jika itu suara lelaki—memenuhi telingaku, segera diikuti oleh suara gedebuk yang keras. Tiba-tiba jeritan Jay dipotong oleh suara keretakan keras yang menggema. Tentu saja itu bukan suara patahan ranting pohon.

Air mata memburamkan penglihatanku, membuatku susah untuk menentukan arah di jalan yang bergelombang. beberapa lirikan sekilas ke belakang membuatku yakin jika Clare berada tak jauh di belakangku. Melihat lebih jauh ke belakang Clare, aku bisa melihat makhluk itu duduk di atas dada Jay dan dengan buas menggerogoti wajahnya. Aku melihat lebih lama sekali lagi, dan melihat makhluk itu mencongkel bola mata jay dengan giginya. Ilusi mengerikan terpampang di depanku, sebelum akhirnya mata itu terlepas dan memantul. Makhluk itu seperti anak kecil yang sedang memainkan sesuatu. “Dia” menelan mata Jay bulat-bulat, mengirim benda itu ke dalam perutnya.

Aku menoleh lagi ke arah Clare kali ini, wajahnya sangat berantakan—make up-nya bercampur keringat dan air mata. Perutku terasa mual lagi tatkala menyadari makhluk itu telah hilang dari penglihatanku. Mayat Jay yang terkoyak masih berhamburan di tanah. Aku berteriak keras pada Clare.

“DIA MENGHILANG, DIA MENGHILANG”

Clare bergegas menoleh kebelakang, memastikan apa perkataanku benar atau tidak. Saat itu juga, kakinya tersandung akar besar yang menggeliat di atas tanah. Aku berhenti, hanya sekilas melihat kejadian kilat saat tubuh layaknya boneka terguling ke tepi jurang sebelah kirinya. Aku tak bisa melakukan apapun, kecuali hanya berdiri dan mendengar teriakan teredam saat ia terjatuh dan menghempas dedaunan di bawahnya. Jurang curam itu kira-kira 20 meter dalamnya, di penuhi bebatuan tajam dan pepohonan.

Saat itu aku membuat keputusan untuk menyelamatkan diri, melanjutkan perjalanan tanpa Clare. Walaupun dia selamat di jurang, makhluk itu akan tetap memburunya. Aku kembali ke arah sebelumnya, melewati Pagoda, serta sisa-sisa potongan kepala dan rahang. Aku jatuh beberapa kali, cukup menyakitkan.
Aku terus berlari sampai tubuhku benar-benar tak sanggup untuk berlari lagi, dan ambruk ke atas tanah. Dada dan kepalaku terantuk keras untuk pertama kalinya sejak peristiwa mengerikan itu terjadi. Aku punya beberapa detik untuk menguraikan semua kejadian barusan. 3 dari 4 temanku pasti telah mati, sedangkan nasib Clare belum jelas. Makhluk itu bergerak dengan sangat cepat, seolah-olah mempunyai kemampuan indera layaknya manusia super. Apa hanya ada satu di antara mereka? Ataukah ada sekumpulan klan monster di daratan tak tersentuh di China?  Memikirkan sekumpulan makhluk janggal masih ada di luar sana membuatku ngeri.

Aku menjerit pelan saat ponselku bergetar di kakiku. Aku segera memungutnya dari saku celanaku, supaya benda terkutuk ini diam dan menggunakannya untuk meminta bantuan. Sekarang aku hanya punya satu kesempatan. Clare menelponku. Aku segera menjawab dan menempelkannya ke telingaku. Dia menangis, sangat memilukan. Di sela isakannya, aku bisa mendengar ia berbicara,
“Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa?”
Dan lalu,
“Makhlu itu ada di sana. Dia disini. Dia hanya berdiri. Mengawasiku. Dia hanya berdiri disana. Tepat di depanku.”
Sebuah pekikan, jeritan, dan suara pukulan yang memuakkan menggema melalui speaker. Aku bergegas berlari menuju ke dalam celah kecil di sisi gunung gunung, di balik semak-semak, dan membenamkan wajah ke lutut. Suara mengerikan itu terus menggaung dari speaker ponsel—yang aku geletakkan begitu saja ke atas tanah didepanku. Sesaat kemudian, hanya ada keheningan. Lalu suara endusan yang mendadak mematahkan kesenyapan. Suara deritan dari makhluk itu. “Dia” memegang ponsel itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan suara lengkingan, menjatuhkannya dan berlari menembus malam.

Aku melempar ponselku. Merogoh ke dalam tas ransel untuk mengambil satu buah rokok dan iPad.

Aku telah menghabiskan 30 menit terakhir untuk merokok dan mengabadikan kata-kata terakhirku. Sudah hampir waktunya. Aku tak takut lagi, karena aku tau semua akan segera berakhir. Siapa saja yang membaca ini mungkin berpikir kalau aku gila, hanya duduk dan menunggu datangnya kematian, alih-alih berusaha untuk menyelamatkan diri.
Aku tak tau kenapa aku tidak berkeliaran di tengah malam untuk melarikan diri ; aku hanya merasa nyaman sehingga aku hanya duduk dan menunggu. Aku tak takut lagi.

Makhluk itu disini sekarang. Aku mendengar langkah-langkah kaki pelannya beberapa menit yang lalu. Kini “dia” berdiri kira-kira setengah meter dariku, di sisi lain dari semak ini. Aku bisa melihat kakinya yang pucat, bersisik, dan teramat kurus dari sela-sela semak belukar. Aku bisa melihat cakarnya yang berwarna merah tua menggantung bebas di sisi tubuhnya, hampir menyentuh tanah. Aku bisa mendengar suara keretakan dan nafasnya yang tertahan. Aku bisa mencium bau bulunya yang tebal dan darah kering yang mengitari wajahnya. Sekarang giliranku, dan aku sama sekali tak takut.

...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Hohoho, siang2 bacanya ga berasa, tapi kalo malem2 pasti ngeri =='
dan akoh mengutuk kemampuan visualisasiku, hiiiy... Ngeri sekaligus ngilu pas part yg di pagoda >,<

Ila Ilhami mengatakan...

Mikirin uratnya yang berwarna ungu kebiru-biruan xD