Jumat, 19 April 2013

[Cerita Terjemahan] DéjàVu


DéjàVu

By C.F. Ciccozzi
Originally translated by Rain


If you wanna copy this translated-story, take out with full/proper credit


“Sial!” Tanganku mengepal, aku berteriak, dan menendang Michelin kempes ini kelewat keras sampai rasa nyeri merambati kakiku.
Sambil terus merengek, aku mengambil ponsel dari dalam saku. Tak ada sinyal. Rahangku berkeletuk, tapi sebelum aku sempat memuntahkan semua dugaanku, samar kudengar suara ayah berbisik di telingaku : “Kau berdiri 2 jam di jalan raya yang sepi dan kau masih bertanya-tanya kenapa ponselmu tidak bekerja dengan benar. Kau pikir bagaimana bodohnya dirimu?”
Kepalaku berputar-putar, nafasku tercekat di tenggorokan. Dia tak ada disana. Tak ada siapapun—hanya kaktus-kaktus raksasa, hamparan pasir, dan bermil-mil jalan raya yang sepi. Apa yang kulihat di segala penjuru hanyalah gelombang panas yang berpendar di atas aspal. Mataku tertumbuk pada koper...masih tertutup, “Kuasai dirimu!” kataku pada diri sendiri. Alih-alih mengepalkan tangan hanya untuk menenangkan tubuhku yang menggigil.
Ketakutan mengambil alih jantungku yang berdebar tak karuan dan perasaan tak menyenangkan muncul tatkala aku menangkap sebuah gerakan di sudut mataku. Rupanya hanya seekor kadal yang berjalan di atas pasir. Aku memungut sebuah batu dan melemparnya ke arah hewan sialan itu, tapi sayangnya meleset. Aku benci benda kecil itu.
Menyeka keringat di ujung bibirku, aku berhti-hati agar tidak menyenggol tindikan yang baru kubuat. Tunggu. Apa aku mendengar suara mobil?
Beberapa saat kemudian, station-wagon berselimut debu berhenti tepat disampingku. Seorang wanita yang membawa senapan menampakkan kebengisan, ekspresinya kelewat muram. Sangat cocok dengan penampilannya. Matanya yang kelam melebar, mengamati rambut hitamku yang tergerai hingga alis yang ditindik, melewati hidungku, dan tiga tindikan di bibirku. Tidak, nyonya. Aku TIDAK berdandan untuk pesta Halloween, pikirku, tapi aku tetap tutup mulut. Bibir wanita itu terbuka. Matanya berlanjut mengamati blus putihku dan rok seragam kotak-kotak yang aku benci dengan penuh minat. Kini mataya beralih ke kaki kananku—kaki dengan gambar tato yang tidak sopan. Desisan nyata terdengat saat ia menghirup udara melalui sela-sela giginya. Dia berbalik, menggumamkan sesuatu, lalu memandang lurus ke depan.
Sungguh reaksi yang menarik, walaupun lebih “lembut” ketimbang reaksi yang sering ditunjukkan ayahku. Aku melirik, bekas memar terlihat di pergelangan tanganku, mengingatkanku pada reaksi ayah terhadap karya seni  Blasphemous. Ingatan tentang kegusaran Ayah yang sangat menganggu membuatku tersenyum samar.
Si Sopir menggerutu lalu meraih engsel jendela yang setengah terbuka. Mata birunya nampak ramah. Dia tak lebih dari seseorang yang Bible katakan sebagai yang pantas untuk di hormati... tapi sesuatu tentang lelaki berambut pirang membuatku tak nyaman. Ketukan tak kasat mata terasa di pangkal leher dan menjalar sampai ke punggungku.
Saat lelaki itu menawari tumpangan, aku ragu-ragu lalu menolak hanya dengan gelengan kepala.
“apa kau yakin?” ekspresinya nampak prihatin, tapi kata-kata berikutnya membuatku terlihat sangat bodoh—hal yang tiap hari ayah tercintaku katakan, “jarak dari sini ke kedua kota berikutnya sama-sama 3 mil, dari segala arah. Sangat tidak bijaksana jika kau berkeliaran disini sendirian.”
Apa urusannya dengan dia? tidak mungkin aku semobil dengan si brengsek itu! Aku mengambil ponsel dan menggoyang-goyangkannya di udara. “Terima kasih, tapi aku baru saja bicara dengan Ayahku. Dia akan tiba disini sebentar lagi.”
Dua jam kemudian, dari arah belakang suara klakson mobil membuatku tersadar dari tidurku yang tak tenang. Rambut kusutku menggantung di kening, aku beranjak dari jok depan dengan marah. Dengan lengan terbuka, aku berteriak, “Apa?”
Seorang lelaki gemuk dengan wajah aneh karena kumis keluar dari Escalade. Bentuk wajah orang itu mengingatkanku pada Casper si Hantu yang Ramah, hanya saja dia berambut. Dia melihat ban mobilku yang kempes, “Uhm.. sorry.” Katanya, seraya mengusap lehernya yang berpeluh. “Aku hanya berpikir kalau-kalau kau butuh bantuan.”
Lelaki itu punya pipi yang gemuk, mirip Ayah.
“Aku sendirian,” Ujarnya sambil meletakkan tangan  di dada, “Tapi jangan khawatir, kau aman. Aku berhenti karena aku tak suka melihat gadis yang kesusahan, apalagi jika ia mash sangat muda. Kau bahkan terlihat tak cukup tua untuk menyetir.”
Salah ; aku berumur 15 tahun minggu lalu, tapi hal ini sama sekali bukan urusannya. Mengamati wajahnya yang aneh, membuatku berfikir jika ayah berada disini dia akan bertanya pada orang bodoh ini, betapa bodohnya dia mengendarai SUV jika mengendarai Sedan jauh lebih baik. Ayahku pernah berkata pada tiap orang yang mau mendengarkan, jika ia berkuasa, SUV tidak akan masuk dalam hitungan. Ya, jika ia menguasai dunia, aku tak akan menjadi satu-satunya orang yang menderita di dunia ini.
“Jika kau ingin aku mengganti ban-mu, sebaiknya kau memberitahuku lebih awal.” Ujar Casper, sambil menyilangkan tangannya di dada. Dia menggeduk-gedukkan kakinya. “Aku harus segera melanjutkan perjalananku lagi, perjalananku masih panjang.”
Saat ini, aku sama sekali tak ragu ; aku menggoyang-goyangkan ponselku dan bilang kalau ayahku dalam perjalanan menuju kesini.
Sudah terlampau siang sekarang, kekurangan air dan makanan membuat tubuhku lemas. Tengorokanku teramat kering, dan mungkin saja aku mengalami sedikit dehidrasi. “Berapa lama aku akan berada di neraka ini.” Kataku pada udara kosong. Suaraku yang serak menandakan jika aku telah berteriak untuk kesekian kali. Walaupun aku sama sekali tak ingat, aku harap aku bisa menahannya.
Dari kaca spion, aku melihat sebuah mobil dari kejauhan. Aku keluar dari sedan ayahku, membuka kap mobil lalu berdiri di samping pintu mobil. Angin sepoi-sepoi bertiup entah dari mana, dan aku mencium bau busuk dari koper. Terimakasih untuk hawa panas yang aneh ini dan ayahku yang menjengkelkan. Sebuah sedan hitam—dengan hanya ada sopir di dalamnya, melewatiku dengan pelan. Untuk sekilas aku berpikir ia takkan berhenti., tetapi lelaki itu berhenti dan mundur. Dia keluar dari mobilny—dia tinggi, berambut merah, dan binti-bintik menghiasi wajahnya. Dia terlihat serupa pria berumur 30 tahun-an, tapi kenapa ia mengingatkanku pada sosok Ayahku?
“Kau sendirian—di sepanjang jalan ini?” tanya lelaki itu, “Kau pikir betapa bodohnya dirimu?!”
Tanganku mengepal. Kebencian mengalir melalui urat darahku. Sesautu dari dalam diriku berontak, dan mulutku terbuka, namun aku tak bisa bernafas. Seakan kaku, aku melihat rambut merah lelaki itu berubah menjadi cokelat ke abu-abuan, dan aku melihat mata hijau kelamnya beralih menjadi biru. Serta binti-bintik di wajahnya menghilang, hanya menyisakan garis dan kerutan. Dia menghampiri mobilku, dan mencabut kunci dari lubangnya, lalu bergerak di depanku dengan kaki terseret, persis seperti yang Ayah lakukan tiap malam ketika aku beranjak remaja. Aku agak lemas. Tiap langkah yang di lancarkan orang itu di depanku, membuatku mundur satu langkah ke belakang. Darahku serasa mengalir cepat ke telinga hingga kata-kata yang di ucapkannya tak sanggup aku dengar.
Apa yang ku lihat hanya kebohongan, ayah sialan itu kini memojokkanku dari segala penjuru...lagi! dia memutar mobil ke arah koper, kunci itu terangkat, siap untuk di masukkan. Kunci mobil telah di masukkan. Ayah membungkuk dan memutar kunci tersebut.
Sebuah pisau berkilat lantaran terkena sinar matahari tatkala aku mencabutnya dari sarung di pahaku. Senjata itu terlihat sangat bagus ketika aku menggenggamnya ; bobot benda itu membuatku nyaman. Ku miringkan kepalaku, semua panca inderaku seakan waspada ketika sekali lagi berhadapan dengan lelaki yang telah membuat hidupku serasa di neraka. Perasaan lega seketika menguar saat suara kucuran darah keluar dari tenggorokan lelaki itu. Dengan tangan pembunuhku, pisau itu membuat garis yang rapi disana. Seketika aku menutup mata, menikmati saat-saat menyenangkan ini.
Lalu aku melihat kebawah, mendapati tubuh kusut yang tergeletak, sebuah tubuh dari seseorang yang tinggi, berambut merah, dengan bintik-bintik di wajahnya. Dan darah. Oh Tuhan, darahnya banyak sekali! Suara-suara acak memenuhi kepalaku, membuatku menahan diri untuk tak berteriak lagi. Bingung, aku terus mengerjap-ngerjapkan mataku hingga plat mobil ayahku mulai nampak dari kejauhan.
Tapi tidak mungkin! Kami tidak pernah tinggal di Nevada.
Berbalik, aku terjatuh lalu bergeser beberapa meter dari mayat tak berdaya tadi. Pertanyaan-pertanyaan acak silih berganti memenuhi kepalaku : mobil siapa ini ... dan siapa lelaki yang berada di dalam koper? Atau apakah memang ada lelaki di dalam koper?
Wajah-wajah mati dari ayah dan enam lelaki lain nampak bergantian di kedua mataku. Suara-suara di kepalaku bergaung lagi. Lalu, serupa melihat layar bioskop, gambar-gambar di ingatanku mulai terlihat jelas, dan aku melihat diriku sendiri bersusah payah memindahakan mayat-mayat dari sedan yang berbeda ke dalam koper.  Penglihatanku kembali berubah. Seperti seseorang telah menekan tombol forward dengan cepat, dan aku terus menyetir sampai sedan itu kehabisan bahan bakar atau macet di sisi jalan. Tiap aku menepi, ayahku selalu muncul dan tiap itu pula aku menancapkan pisau ke tenggorokannya.
Apa aku gila?
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu terus-terusan berputar, sebentuk cahaya menyorot dari belakangku. Seketika perasaan takut menyergapku, tapi aku memaksa diriku sendiri untuk mengambil kunci mobil dari tangan mayat lelaki berambut merah itu dan membuka koper.
Aku tak mengenali lelaki yang ada di dalam koper.
Tawa ayahku bergaung sumbang di telinga ketika ia terus-terusan menyangsikan tingkat kecerdasanku.
“Kau brengsek!” Teriakku, “ Harus berapa kali aku membunuhmu hingga kau benar-benar mati?!”

THE END

6 komentar:

Dee-chan mengatakan...

Translatenya oke banget kok nee, tapi gak tau kenapa gak dapet feel pas baca tu cerita. Mungkin karena ceritanya ada sangkut pautnya dengan seorang ayah. Agak sensi gitu kalo ada sangkut pautnya sama beliau *curcol*
kalo bisa cari story yang lebih greget lagi yak nee:) hwaiting..ganbatte!

yura mengatakan...

hollaaa~ tante ^^
weewww~ translate.annya udah ok kok tan. udah rapih ini, kesan terjemahannya dapet *yaiyalah* dan mudah di pahami *bagi saya #plak
kritiknya cuma.... Typosssss.. wkkwkwkwk XDD
sayang tan udah bagus tpi msi ad typos....
good job tan ^^

Rain mengatakan...

silahkan ngasih bahan, ntar aku yang translatin buat dee xD

Rain mengatakan...

ah iya, typos bertebaran... editingnya sembrono ><
makasih yura :*

rifqi ayati mengatakan...

Aku fikir tadinya cowok,karna kan pake tindik...tapi pas bilang pake blus baru deh ngeh hehe...tapi horor juga yah?6 orang dia bunuh tanpa sadar,dia trauma atau kenapa??uuuh bagus nih ceritanya, walau sayang ga ada clue masalalu si cewe itu sama ayahnya....tapi keep writing teh hehe...
#ini rifqi bukan yatixD

Ila Ilhami mengatakan...

Kayaknya si tokoh ada dendam kesumat sama sosok ayah,
pas ngeliat orang lain jadi delusi, yang kebayang malah wajah ayahnya, jadi deh dia kalap trus ngebunuh mereka :D ada unsur paranoid juga disini..
Coba, dari beberapa monolog ada clue kenapa doi benci sama ayahnya kok..