Selasa, 23 April 2013

[cerita terjemahan] JOINED


JOINED
By RE Holden – Creepypasta
Originally translated by Rain

Please take out with full credit
 

[Rekaman mulai menyala]

“Namaku Annabelle, usiaku 14 tahun. Sekitar sebulan lalu aku bertingkah ‘aneh’, menurut cerita Dad tentu saja, karena aku sama sekali tak ingat apapun.”

“Saat pertama kali hal itu terjadi, aku melakukan hal-hal ganjil. Saat tengah malam, tiba-tiba saja aku terbangun dan membuka tiap-tiap pintu dan membuka setiap jendela di dalam rumah. Semuanya! Pintu dapur, pintu belakang, pintu depan, pintu-pintu lemari, pintu kamar Dad,  pintu lemari es, bahkan pintu basement—yang sebelumnya terkunci rapat. Tak seorangpun tau bagaimana aku membuka kuncinya, atau bahkan dimana kuncinya berada. Kunci itu tiba-tiba saja lenyap. Benar saja, Wajah Dad seketika menjadi pucat. “Bells,”—katanya—bagaimana Dad memanggil namaku—“Apa yang sedang kau lakukan?” Mesin lemari es terbakar, dan lantai basement basah karena hujan. Tapi Dad tak bisa marah lama-lama. Sejak Mom meninggal, sering ia bilang jika aku adalah satu-satunya orang yang ia punya sekarang. Aku mengerti apa yang ia maksud, dia juga satu-satunya orang yang aku punya. Ku pikir ia hanya terlalu mengkhawatirkanku, sejak dia menemukanku di luar rumah dengan hanya mengenakan piyama—basah karena kehujanan. Dia tak tau bagaimana aku bisa berada di luar. Dia tak selalu bisa mengekspresikan perasaannya. Tak masalah. Lelaki selalu begitu.”

[Rekaman tersebut sengaja di lompati disini. Suara desisan terdengar sebagai background—tapi bisa saja itu hanya suara udara. Suara itu terdengar jelas, lalu gadis itu mulai berbicara sekali lagi.]

“Untuk kedua kalinya, aku melakukan hal yang mengerikan, aku terbangun dengan tubuh bersimbah darah. Pisau masih tergenggam di tanganku, dan mereka menemukan—“

[Suara letusan—nyaris mirip petir—menganggu kata-kata setelahnya.]

“—sox adalah kucing kami, ia melihatnya.”

[interviewer membisikkan sesuatu, lalu meminta gadis itu untuk melanjutkan.]

“Ayah sangat ketakutan, akhirnya ia meminta bantuan kalian, Guys...”

[Interviewer meminta gadis itu untuk menjelaskan lebih detail demi kelangsungan rekaman ini.]

“Oh maaf, dia kemudian meminta bantuan kepada Gereja. Aku tak pernah ke Gereja sebelumnya, setelah itu Dad menyuruhku untuk kesana. Aku tak bermasud tak sopan, tapi aku benar-benar tak percaya adanya Tuhan—“

[Sama-samar terdengar Interviewer mengatakan sesuatu tentang tidak mengalihkan pembicaraan. Dari caranya berbicara, ia namapak gusar dan tidak sabar.]

“Maaf, aku tak bisa fokus beberapa... beberapa... beberapa...”

[Gadis itu terus mengulang kata-katanya selama 2 menit. Interviewer tak nampak mengatakan apapun, atau berusaha untuk menghentikan gadis itu.]

“—hari itu. Umm. Jadi, itu adalah kejadian aneh yang ketiga. Minggu itu aku pergi ke Gereja, aku mulai merasakan gatal yang aneh, seolah-olah gatal itu datang dari bawah kulitku. Kau tau? Aku mulai menggaruk, hingga kulitku berdarah. Segera orang-orang melihatku, dan mulai berbisik-bisik. Setelah itu aku sadar punya bekas cakaran memanjang dari leher, perut, hingga kakiku. Dad membawaku keluar dari Gereja, aku sangat senang, karena rasa gatal itu ikut hilang juga.”

[Interviewer meminta sesuatu dengan suara samar—nyaris serupa desisan lemah. Sesuatu seperti kata “setan” dan “membebaskan diri.”]

“Yeah, okay. Aku tak yakin jika kau benar. Tapi jika hal itu membantuku, mari kita lakukan.”

[Terdengar bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, anehnya itu adalah suara yang menyenangkan untuk di dengar. Terdengar suara Interviewer yang menyuruh gadis itu untuk menceritakan peristiwa yang ke-empat.]

“Okay, selang 2 minggu setelah peristiwa di Gereja terjadi, aku mendapat spidol ini, salah satunya adalah spidol permanen. Aku menggambar pada apapun yang aku temui. Maksudku apapun. Seluruh ruangan di dalam rumah tertutup oleh Spidol hitam. Apa yang aku gambar? Hal yang sama, berulang kali. Sebuah angka “2” kecil. Dengan panah mengarah ke kanan, mengarah ke angka “1” kecil. Lalu aku mengambil sebuah pisau—“

[Rekaman itu mulai di selingi suara-suara menyerupai angin ribut.]

“Dan aku menancapkannya ke tenggorokanku. Aku tak tau sudah berapa lama berdiri seperti itu di samping ranjang Dad. Ketika dia bangun, dia bilang jika aku menatapnya dengan tatapan aneh. Aku sama sekali tak bersuara. Hanya menatap, dengan tatapan yang buas dan mengerikan. Sementara Dad terus memohon agar aku mau meletakkan pisau itu. Pada akhirnya, mungkin aku di paksa untuk melepaskan pisau itu, karena aku terbangun dengan pisau di tanganku. Dad ketakutan setengah mati, ia menyuruhku berjanji untuk tidak melakukan apapun pada diriku sendiri. Aku menjatuhkan pisau itu dan menangis.”

“Sesudah itu, dan setelah melihat apa yang aku tulis, Dad sangat yakin jika aku kesurupan oleh setan atau sejenisnya. Dan inilah kita sekarang, ini adalah wawancara sebelum ritual pembebasan dari roh jahat.”

[Interviewer berterima-kasih padanya dan rekaman pun berakhir—tapi tidak sebelum suara bisikan aneh terdengar samar, “segera”.]

[Video mulai dimainkan. Ada sesuatu yang salah. Video tersebut mengalami distorsi-distorsi yang tidak ada hubungannya dengan kesalahan elektronik. 5 tanda nampak muncul di layar Video, berulang-ulang bergantian dengan gambar polos, lalu tanda baru muncul, sebuah garis menurun  muncul dengan tiba-tiba—seperti seseorang yang dengan sengaja mencakar gambar tersebut. Hal ini berlanjut sepanjang video berlangsung.]

“Tidak!” Teriak gadis itu. Dia di ikat di atas ranjang di dalam ruangan kecil dengan beberapa lelaki berpakaian serba hitam.

“Dengan nama—“ [Suara dipotong selama beberapa detik.]

“A—ada sesuatu yang salah, Guys, aku tak bisa melihat apapun!” Jerit gadis itu dengan suara gemetar.
“Pergi!” Kata salah satu lelaki berjubah, lalu, “Pergi!!” Mereka semua berteriak. Teriakan ini berlanjut selama 3 menit bersamaan dengan gadis itu yang mulai menangis tak terkontrol.
Ketika teriakan mulai bergemuruh, tangisan gadis itu makin menjadi, “Dad! Suruh mereka berhenti! Aku mohon!... Tolong... Aku tak ingin pergi.” Saat suara gadis itu melemah, salah satu lelaki membisikkan sesuatu pada lelaki yang lain.

[Di titik ini, baik Video maupun Audio mengalami kerusakan elektronik. Tak ada apapun yang bisa di dengar ataupun di lihat. Setidaknya di dalam video, untuk beberapa saat terdengar satu bisikan ; “Selamat tinggal”. Gambar di Video jadi polos, dan tak ada lagi distorsi cakaran yang terlihat.]

Gadis itu tak lagi menangis. Dia hanya diam. Seorang lelaki dengan jeans dan kaos flanel berlari ke dalam ruangan dan melepas kaitan-kaitan tali di tubuh gadis itu. Lelaki itu memeluknya, sedikit emosional da terlihat lega. Lalu gadis itu berkata.

“Halo, Father...”
“Hi Bells. Bagaimana kau—“
“Jangan panggil aku dengan nama itu.”
“Apa?”
“Jangan panggil aku Bells. Aku tak suka nama itu. Panggil aku dengan nama yang kau berikan padaku sejak lahir, Annabelle. Nama itu sangat indah. Dan aku tak mau di panggil dengan nama yang sama seperti—makhluk itu.” Dia mengeja kata-kata terakhir dengan penuh kebencian.

Lelaki itu nampak bingung, lalu melihat lelaki berpakaian serba hitam dengan sorot memohon. Lelaki-lelaki itu berbisik satu sama lain. Mereka saling beradu pandang, sebuah kesadaran yang mencengangkan nampak di wajah mereka satu-persatu.
Salah satu lelaki berpakaian serba hitam menghampiri lelaki yang masih memeluk gadis kecil itu, “Mr. Goodwin, maaf, aku benar-benar minta maaf...”

[Lelaki lain uncul di depan kamera selama beberapa detik dan mematikan kamera tersebut.]

“Aku ingat sekarang, aku ingat semuanya. Aku hanya ingin hidup lagi, Dad, aku sangat menyayangimu. Maafkan aku. Aku mendatanginya ketika aku—dia—masih bayi. Aku tak berpikir jika ini salah... Aku tak berpikir jika ia akan merindukan kehidupannya. Aku tak berpikir jika ia akan kembali. Aku bahkan tak pernah berpikir jika ia masih ada di sana, karena sangat mudah masuk dan tinggal di dalam tubuhnya. Dengan mudah aku melupakan siapa aku yang sebenarnya—apa aku sebenarnya.
Aku bahkan tak tau apa yang sedang terjadi. Aku hanya ingat, setelah aku meninggalkan tubuhku—tubuhnya. Sangat asing dan dingin disini. Segala sesuatu disini berwarna abu-abu dan berkabut. Semua yang aku lihat hanyalah orang-orang yang datang dan pergi dalam kegelapan. Tak seorangpun melihatku atau berbicara padaku. Aku sangat kesepian. Tak ada Tuhan, surga, neraka, iblis, atau malaikat. Hanya ada orang-orang yang direnggut dari tubuhnya, tak bisa merasakan apapun kecuali penyesalan dan penderitaan. Kami tiada, aku menghilang, aku tak tahan, tapi aku tak punya pilihan lain. Aku harap kau menyayanginya seperti kau menyayangiku, dan aku harap suatu hari nanti kau bisa memaafkan apa yang telah aku lakukan.”

END

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Oh, jadi selama ini yg 'menghuni' raga si annabelle bukan jiwanya ya? Hoft... Keren cu :-D

Ila Ilhami mengatakan...

Iya kek, :Db