Senin, 22 April 2013

Wajah Dunia Musik Kita, Dari Jaman Jadoel Sampai Sekarang


Wajah Dunia Musik Kita,
Dari Jaman Jadoel Sampai Sekarang

Written by : Rain


Rain balik lagi dengan unek-unek yang bikin butthurt. Soalnya jaman sekarang apapun itu bisa jadi sangat butthurt buat sebagian orang. Apalagi dengan keadaan pasar kita dibanjiri oleh suatu “entitas”—yang membuat kita jenuh dan jengah.
Sebelum itu, mari deh sedikit bernostalgia dengan masa-masa kecil kita. Ada yang ingat dengan Family 100? Tersanjung? Permen karet Yosan? Gamebot? Atau Anime tiap minggu pagi sampai menjelang siang? Pasti, itu anak 90’an punya. Gak salah kalau masa-masa itu masa yang paling asik buat di kenang saat umur kita sudah menjelang tua seperti ini.
Tapi bukan hal-hal di atas yang mau saya bahas disini. Melainkan kita akan membahas soal potret musik Indonesia melalui kaca mata amatir saya.
“Makin tua era suatu musik, makin edan pula kualitasnya.” Kita lihat bagaimana musisi-musisi jaman dulu punya karya-karya yang bisa di bilang abadi. Tak jarang generasi yang lahir setelahnya pun berbalik menyukai apa yang orang tua mereka sukai. Saya kenal Koes plus, Gombloh, Ebiet G. Ade, Panbers, D’lloyd, atau Bimbo pun berkat melihat koleksi CD Ayah saya.
Berlanjut ke masa-masa SD, dimana saya familiar dengan beberapa Grup Band seperti SO7, Dewa19, Base Jam, D.O.T, Wayang, dan lain-lain.
Menyenangkan bukan? Bhinneka Tunggal Ika benar-benar terasa disini.

1990-2000
Hampir sebagian teman-teman yang saja ajak diskusi tentang potret permusikan Indonesia bilang bahwa musik jaman 90’an itu asik banget. Bisa di bilang musik saat itu benar-benar meng-akomodir segala bentuk “passion” dari penikmat musik—dengan selera yang beragam tentunya. Mulai dari penyanyi cilik sampai Grup Band berbagai Genre.
Seperti yang saya kutip di salah satu blog  disini ;
Saya merasa beruntung tumbuh pada era 80-90’an dimana saya menjadi salah satu saksi betapa dulu musik Indonesia begitu variatif dengan eksistensi band-band atau penyanyi-penyanyi solo yang memang benar-benar punya kwalitas dan tentu saja popular
Di kubu penyayi cilik kita punya beberapa bintang berbakat, sepeti Meissy, Trio Kwek-kwek, Joshua, Tasya, atau Sherina yang muncul pada era 90’an akhir dengan suaranya yang merdu dan membawa angin segar bagi dunia musik kita.
Dari kubu Solois atau Grup Vokal kita ada Nicky Astria—yang lagu barunya sempat beberapa kali nongol di TV, Nike Ardilla, Trio libels, dan lain-lain.
Sementara dari kubu Grup Band kita punya segudang musisi yang asik. Diantaranya Jamrud, Boomerang, Java Jive, Dewa 19, Kahitna, Naif, D.O.T, Base Jam, Pas Band dan lain-lain.
Ada di antara mereka—khususnya yang muncul di akhir era 90’an dan booming di awal-awal tahun 2000-an. Sebagian ada yang tenggelam, sebagian ada yang masih bertahan walaupun kadang mendapat sambutan kurang meriah dari penikmat musik Indonesia.

2000-2010
Di Era Millenium ini band-band serta para penyanyi-penyanyi baru bermunculan. Agaknya Genre Pop benar-benar mendominasi saat ini. Seperti halnya So7, Dewa 19 dan PADI yang menjadi primadona pada awal-awal 2000-an. Kita mungkin agak merasakan pergeseran sedikit-demi-sedikit. Dimana Genre yang dulunya eksis, sekarang perlahan-lahan mulai tenggelam—perlu di catat, mereka tidak hilang. Mungkin sebagian yang lain juga memilih Vakum—atau para idealis musik memilih berjalan indie ketimbang harus menggadaikan passion mereka pada pihak label.
Kecenderungan pasar yang berubah, di barengi dengan munculnya band-band dan penyanyi baru, seperti Peterpan, Ungu, Radja, Letto, dan lain sebagianya. Musisi hebat kita belum mati, mereka lahir di generasi baru kita. Setidaknya itulah pikiran kita pada era ini. Banyak yang bisa di banggakan, namun perlahan-lahan arus ‘kecondongan’ dan ‘monoton’ mulai membuat kita was-was.
Lalu ada tren baru dalam bermusik, dan Genre Pop perlahan-lahan mulai di gerus oleh Genre Melayu. Di awali oleh melejitnya Kangen Band, ST 12, Wali, dan diikuti oleh para pendatang baru yang dengan mudahnya masuk dalam indrustri musik hanya ber-embel-embelkan Single. Sejenak kita teringat pada kata-kata Duta So7, bahwa band tidak benar-benar bisa dikatakan sebagai band kalau belum punya album.
Bagi saya, era ini adalah era peralihan. Peralihan dari mana kemana, saya belum bisa menyimpulkannya. Terlalu dini. Yang pasti, potret dunia musik Indonesia benar-benar telah berubah.

2010-sekarang
Ingat, jenius musik kita tidak mati. Anggap saja Kualitas Permusikan Indonesia sedang mati suri.
Ini adalah masa-masa yang menurut saya paling butthurt sepanjang sejarah. Mainstream itu seolah-olah adalah hymne wajib di negeri kita tercinta ini. Seakan kehilangan jati diri, berbondong-bondong menyukai hal yang seragam, dan tak jarang selera pun tergadaikan.
Era ini melayu masih meraja, hanya saja harus bersaing ketat dengan para Grup-grup vokal dancing yang menagtas namakan Girlband dan Boyband yang kian meramaikan pasar musik kita.
Pola mainstream pun makin menjadi.
Lalu dimana kah aplikasi Bhinneka Tunggal ika, jika harus serupa untuk bisa jadi satu? Di mana semangat pola kemajemukan jika banyak hal-hal butthurt seperti ini.

Saya pikir inilah masa-masa keruntuhan kita. Musisi hebat nampak lebih memilih jalan independent dan banyak dari mereka tenggelam karena tidak mampu memenuhi selera pasar yang monoton. Eits, ada yang kelupaan, bahkan band-band yang dulu sempat nge-top pun tak jarang mengubah haluan bermusik mereka. Butthurt? PASTI!

Lalu, siapa sebenarnya yang salah disini?

Banyak. Semua aspek bisa saja di salahkan terkait kejatuhan musik kita.

·         Peran Label Musik
Tentu saja. Label-label besar—yang mencari income yang besar juga, akan mengikuti selera pasar. Dalam perjalanannya, nampak jika musik-musik mainstream lah yang akan di “urus” lebih dulu.
Seperti yang blog ini katakan—dari sumber terpercaya, bahwa Label musik hanya ingin mendapatkan keuntungan semata, tanpa mau memeperhatikan kualitas musik tersebut. Asalakan lagu yang mereka pasarkan bisa menghasilkan duit, dan bisa bersaing itu pun sudah cukup.
Walaupun tidak semua label seperti itu, banyak juga label yang masih berpegang tegus pada ke-idealisme-an mereka.

·         Peran Pelaku seni.
Kenapa harus mempermalukan diri sendiri, dengan menunjukkan kemampuan yang pas-pas-an? Jangan bilang ini hak, jangan bilang buat mencari duit. Kita harus pikirkan bagaimana wajah permusikan kita dengan kecerobohan dan keegoisan oknum-oknum tersebut.
Sebutlah, banyak pelaku seni peran—yang tidak mumpuni—kemudian beralih menjadi penyanyi. Atau penyanyi-penyanyi karbitan yang hanya bisa lypsync, serta orang-orang yang mengaku anak band tapi kemampuan main alat musikinya jauh dari kata bagus.
Belum lagi isu tentang plagiatisme, yang menambah daftar kecacatan dunia musik kita.
Kita punya banyak bakat-bakat yang luar biasa—bahkan di akui dunia. Tapi tak sedikit dari mereka yang tenggelam dan tak bersuara.
Tak peduli si jenius itu datang dari genre apapun. Karena musik yang bagus itu tergantung dari siapa yang mengolah, dan bagaimana ia mengolahnya. Bukan dari apa yang ia olah.

·         Para penikmat Musik
Semua kembali ke asal. Semua yang di lakukan para label dan musisi itu tergantung pada para penikmatnya. Yang lagi Mainstream, ya itu yang bakal mereka suguhkan.

Loh, itu kan hak-hak kita? Selera kita...

Iya, saya tau banget dah. Itu hak kalian suka musik apa. Dangdut, melayu, pop, rock, reggae, Hip hop, Punk, atau Metal, dan lain-lain.
Tapi apa benar yang kalian sukai ini betul-betul dari dalam hati? Dan bukannya sekedar ikut-ikutan dari teman?
Jangan makan junkfood terus-terusan, padahal banyak makan-makanan sehat yang selama ini tertumpuk di kulkas.

Bagaimana? Kemerosotan yang luar biasa kan? Dimana pada era 90’an lebih banyak komentar positifnya, sebaliknya di era-era sekarang malah banyak komentar butthurt-nya.
Buat anak Indonesia yang yang suka mencerca musik Indonesia, malu sebagai generasi negeri ini, dan bahkan ada yang berkeinginan untuk pindah kewarganegaraan, baca ini baik-baik ; Jangan hanya selalu menDEWAkan apa-apa yang berbau luar negeri, dan malah mencaci-maki musisi dalam negeri. Ingat mulutmu, adalah harimaumu. Jika tidak bisa berkata-kata dengan bijak, maka Diam adalah Emas sangat bagus untukmu. Sebaliknya, apa yang bisa kita berikan buat negeri kita ini? Berikan sesuatu, bukan terus-terusan menuntut sesuatu.
Ingat, Para jenius-jenius itu masih hidup, masih berjalan, hanya saja mata kita selalu terpancang ke depan. Tangoklah kanan-kirimu, maka akan kau lihat musik kita perlahan akan dikenal dunia.
Ingat dengan perkataan Hyde Laruku, bahwa Indonesia adalah Rival yang pantas untuk permusikan jepang. Dan kata personel Good Charlotte bahwa Musik Indonesia itu bagus. Satu lagi, saya sangat bangga dengan perkataan seseorang yang bilang bahwa, “Tunggu saja adanya Indonesian Wave!!!” Semangat yang luar biasa.
Jangan menunggu mereka untuk setenar Agnes Monica di Hollywood, baru kita mau memuji mereka.
Disini saya sama sekali tak bermaksud membandingkan—hanya saja seharusnya kita bisa berkaca dengan apa yang membuat mereka bisa hebat di jamannya—bahkan sampai sekarang masih di kenang. Walau bagaimanapun, segala sesuatu itu ada masanya. Banyak yang bilang bahwa karya Jenius itu hanya lahir 10 tahun sekali, dan saya, ingin melihat orang-orang jenius itu lahir tiap dekadenya. Tentunya dengan berbagai sorot kamera yang melihat aksi mereka.

Salam kreatif!
Anak Indonesia pantang plagiarize!!

Reference :
Hiburan.kompasiana.com
Genreartion.com
Forum.detik.com
Wikipedia.com

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Huhuhu... Saat jaman ane kecil lagu anak2 itu mendidik, kaya lagu satu-satu, 1+1 dll. Tapi sekarang cinta2an, ironis juga liatnya. Huft, bahkan emak ane kadang nanya, "sekarang meissy kemana ya, masih nyanyi ga?" dan ane cuma bisa angkat bahu doang. Huhuhu...
*kumen ga mutu!*
AYO MUSISI INDONESIA BUKTIKAN PERKATAAN HYDE L'ARC~EN~CIEL DAN VOCALIST GOOD CHARLOTTE ITU BENAR! \(>o<)/

Rain mengatakan...

Iyaaaa.. Mari kita buktikan, musik dan musisi kita yang kuerenz o,,o)//

Anonim mengatakan...

nah saya enjoy banget tuh waktu 90 an, jaman nya baru tau musik .. waktu TK inget banget lagu nya base jam itu yg pertama kali di apal .. haha tapi sekarang lupa, terus pas jaman 2000an udah sering banget nonton MTV, mulai kenal sama western deh, terus permen karet Yosan, pernah ketelen tuh pas makan sambil main tak umpet /ga penting/
intinya saya tetep dukung musisi indonesia, walau jujur saya KPOPERS.. hmm aktif si iya tapi cuma di BB atau GB yg saya suka doang, ini bukan ikut2an awal nya dari ost drama, waktu jaman SD mamah suka bawa DVD korean drama :)
nah itu jelas dari hati suka nya.

btw waktu SMA ada temen lawas bngdt deh, sampe tau lagu dewi yul, saya tanya "kyk kenal tuh lagu" eh kata dia "hahha mak gw suka play lagu ini, lo tau siapa penyanyi nya?
"engga" eh pas dia bilang dewi yul saya cuma bilang "ohh" -_-

pokonya maju terus deh buat musisi indonesia yang ga orbitan dan plagiat :)

Rain mengatakan...

Ketauan banget tuanya anak 90 an xD
yosh, :D//

rifqi ayati mengatakan...

Diam itu emas aku sukaaaa :-D:-D
oh ya jaman aku kecilmah muternya ga pernah absen cinta rosul,bimbo,,ada juga sih betaria sonata,nike....tapi paling demen ya sulis ma bimbo hehe masi apal ampe sekarang lagunya....

trus juga aku dulu hobi bgt ngumpulin bungkus kertas permen karet yosan, dari y ampe a,tapi tu huruf N bener2 susah di cari kkk~