Minggu, 26 Mei 2013

[cerita terjemahan] Bedtime II : The Aftermath



Bedtime II: The Aftermath
Rating: 8.6/10 (160 votes cast)

Credit to – Michael Whitehouse

Originally translated by : RainiLa

 Please Take Out With Full Credit!!!

Setelah menulis di akun "pengalaman mengerikan" yang aku miliki sebagai seorang anak berusia 8 tahun, banyak yang mendorongku untuk berbicara mengenai akibatnya. Aku sudah ragu untuk melakukan hal itu karena aku merasa gelisah sejak aku menceritakannya. Aku tak bisa tidur dengan mudah beberapa malam terakhir ini. Keragu-raguanku, bagaimanapun, tetap ada saat aku akan menceritakan apa yang aku alami di kamar lain.

Ini tidak akan lebih lama dari apa yang telah terjadi padaku sebelumnya, tapi hal itu lebih dari cukup bagiku.

Jika kau ingat, setelah tamu malam yang tidak di undang itu meninggalkan aku, setahun kemudian aku pindah ke kamar lain. Ruangan ini jauh lebih besar dari yang sebelumnya dan memiliki suasana yang hangat dan ramah. Beberapa tempat terasa buruk. Ruang sebelumnya juga buruk, tapi yang satu ini tidak.

Untungnya aku diberi tempat tidur yang biasa, yang sebelumnya (kasur tingkat) sudah di ambil dan di buang (pemandangan menyenangkan yang bisa kutambahkan). Aku menyukai kamar baruku, aku menikmati luasnya ruangan yang muat untuk semua mainanku, aku senang bahwa tempat itu cukup besar untuk di tempati teman-temanku yang ingin mampir, tetapi  dari semua itu  aku lega telah terbebas dari kegelisahanku, dan firasat buruk mengenai salah satu bagian rumah.

Saat malam pertama, aku tidur lebih nyenyak daripada biasanya. Tentu saja aku masih menempatkan tempat tidur beberapa meter dari dinding. Aku bilang pada Ibu  bahwa aku dan teman-temanku suka menggunakan celah antara tempat tidur dan dinding sebagai tempat persembunyian ketika kami sedang bermain.

Aku terbangun keesokan harinya dengan perasaan segar dan santai. Ketika aku berbaring di sana sambil menonton beberapa kartun favoritku dari televisi portabel kecil, aku melihat sesuatu yang aneh. Sebuah kursi tua berwarna coklat gelap, berada di kaki tempat tidur, besar dan menjulang. Benda itu sangat usang, kursi itu telah diberikan kepada kami satu paket dengan kamar oleh sepupuku, tapi benda itu telah digunakan berkali-kali bahkan pada saat itu. Kursi itu sendiri nampak tidak biasa, tapi apa yang meresahkanku adalah  aku berani bersumpah bahwa sebelum aku pergi tidur, posisi kursi itu membelakangi tempat tidur. Sekarang, dalam cahaya dingin siang hari, kursi itu menghadap ke arahku. Aku menduga salah satu dari orang tuaku memindahkannya saat aku tertidur, mungkin mencari sesuatu yang tertinggal sebelum kami bertukar kamar.

Malam kedua terasa tidak tenang. Saat itu sekitar  jam 11 dan aku bisa mendengar suara televisi orangtuaku dari sisi lain dari rumah. Ruangan itu hampir seluruhnya gelap, satu-satunya penerangan hanyalah sebuah warna oranye yang melayang melalui jendela dari lampu jalan di luar. Aku berbaring di sana dengan senang. Dengan senang, sampai aku mendengar suara yang pelan, namun jelas.

Pada awalnya aku pikir itu adalah suara napasku sendiri, hembusan dan helaan napas saat aku beristirahat, tetapi ketika aku berhenti bernapas sejenak, terdengar suara samar seseorang di ruangan ini tengah menghembus dan menghirup napas. Terus-menerus, berirama dan tanpa jeda.

Aku berbaring di sana dalam kegelapan, sementara aku masih belum pulih benar dari teror yang sebelumnya tertanam di benakku, dari pengalaman di kamar tidurku sebelumnya, aku tidak sepenuhnya takut. Suara napas itu serasa begitu jauh dan tidak seperti bunyi desahan yang aku dengar selama perjumpaanku dengan “sesuatu” di dinding waktu itu, aku tetap tenang, dan bahkan di usia sekecil ini aku yakin bahwa suara itu begitu halus dan samar, barangkali itu hanya ulah imajinasiku yang mencoba menggodaku.

Namun, aku tidak menyia-nyiakan waktu, aku melangkah keluar dari tempat tidur, berjalan ke sisi lain ruangan dan menyalakan lampu. Suara itu hilang. Aku menatap kursi berlengan tua yang menghadap ke kaki tempat tidur, menghadap ke arah di mana aku tidur, lalu aku memutar kursi itu agar menghadap arah lain. Aku tidak punya alasan kuat untuk melakukan hal itu, tetapi sesuatu tentang kursi itu membuatku merinding.

Malam ketiga aku tidak merasa begitu takut. Sekali lagi, aku terbangun di dalam kegelapan. Berbaring telentang menatap langit-langit yang tampaknya girang menyerap cahaya oranye redup dari jalan. Pohon di luar jendelaku bergoyang diantara angin sepoi menampakkan beberapa bayangan aneh yang bergerak di seberang ruangan.

Aku tak  mendengar apa pun kecuali dengung panjang dan jauh dari lalu lintas malam kota. Tepat saat aku mulai terlelap kembali, aku mendengar suara itu, sebuah deritan dari bawah tempat tidur, seolah-olah sesuatu telah berpindah, atau menyeret tubuhnya di atas lantai.

Aku mengangkat kepalaku, mengintip melalui kegelapan, tapi tidak melihat ada yang aneh. Semuanya seperti biasa, tidak ada yang janggal. Aku mengalihkan pandanganku ke seberang ruangan ; beberapa komik di lantai, beberapa kotak yang telah masih harus dibuka, kursi berlengan tak berpindah, masih menghadap jauh dari bagian bawah tempat tidur, tidak ada yang mengancam di sini.

Aku sekarang benar-benar terjaga, melirik televisi dan mempertimbangkan apakah lebih baik menonton beberapa siaran TV larut malam atau tidak. Aku harus menjaga volume tetap rendah, jika saudara lelakiku  mendengar suara televisi di kamar sebelah, tidak diragukan lagi dia bakal menyuruhku untuk mematikannya.

Baru saja aku duduk sepenuhnya di tempat tidur, aku mendengar suara itu lagi. Sebuah deritan rendah, disertai dengan sebuah suara. Suara gerakan kecil. Aku mengamati  seisi kamar lagi. Bayang-bayang oranye redup yang dibiaskan oleh daun yang menggantung di jendela sekarang menjelma jadi sesuatu yang menakutkan.

Aku masih merasa tak ada alasan untuk takut. Aku menatap kursi di ujung tempat tidur dan melihat ada yang aneh. Basa bagi otak kita, butuh beberapa saat untuk menerjemahkan apa yang dilihatnya. Butuh waktu untuk merangkai  semua horor yang ada di depanmu secara bersamaan, menjadi momen yang membuat bulu kudukmu meremang, sebuah kesadaran yang tearamat pahit.

Ya, aku menatap kursi usang dalam kegelapan, tapi aku juga melihat orang yang duduk di atasnya!

Dalam cahaya redup aku hanya bisa melihat garis belakang kepalanya, sisanya dikaburkan oleh rongga belakang kursi. Aku duduk diam, menatap, berdoa, berharap bahwa mataku sedang dipermainkan oleh lingkungan sekitar. Deritan lambat ketika “dia” bergerak di atas takhtanya membuat bulu kudukku merenggang, ini bukan tipuan kegelapan belaka.

Kemudian, dia bergeser ke sisi kanan. Aku tahu apa yang dilakukannya, dia berbalik untuk melihatku. Sulit untuk melihat, bahkan di dalam ruangan "dia" nampak lebih gelap dari segala sesuatu di sekitarnya. Aku melihat apa yang tampak seperti beberapa jari panjang tergeletak di sisi kursi. Ruangan sangat sunyi, tapi tidak untuk suara yang di hasilkan benda itu ketika bergerak di atas kursinya, dan degupan jantungku yang menggila.

Pada awalnya aku hanya bisa melihat bentuk dahinya, tapi kemudian dia mulai bangkit dan menunjukkan dua titik cahaya dari sepasang rongga mata dalam kegelapan.

Dia menatapku.

Aku menjerit, dan dalam beberapa saat kakak dan ibuku masuk ke dalam ruangan, menyalakan lampu, menanyakan apakah aku bermimpi buruk lagi. Aku duduk diam, hampir tidak menyadari kedatangan mereka, menatap tajam ke arah kursi yang sekarang kosong.

Aku hanya beberapa hari di kamar  itu sebelum kami tiba-tiba pindah. Aku tak melihat apa-apa selama sisa malam, tapi saat malam terakhirku di kamar itu aku terbangun oleh udara hangat dari sesuatu yang bernapas di telingaku. Aku melompat dari tempat tidur, menyalakan lampu. Terdengar suara napas lambat teratur dari sesuatu yang tak terlihat, lebih keras dari sebelumnya. Aku menghabiskan sisa malam itu di sofa di ruang tamu.

Dua tahun kemudian aku tidur nyenyak di tempat tidur, di rumah baru kami. Tidak ada insiden lain, dan aku yakin aku telah meninggalkan keanehan apa pun yang mengganggu ku, di rumah kecil pinggiran kota itu.

Aku, bagaimanapun, meninggalkan satu hadiah perpisahan. Penyiksaku (dan menurut pendapatku pengintai di kursi itu adalah entitas yang merupakan penunggu kamar itu) punya satu kejutan terakhir untukku. Seperti binatang yang mengklaim wilayahnya, aku tidak sepenuhnya terlepas dari genggaman mereka.

Untuk yang terakhir kalinya, saat yang menakutkan ketika aku merasakan kehadiran—“benda” itu. Aku mendengar  suara-suara  mereka saat sedang tidur, selama dua tahun sejak pengalaman-pengalaman mengerikan itu terjadi. Aku berada di lingkaran  mimpi buruk, dan mendadak senang menyadari diriku terjaga, aman diatas tempat tidur. Ruangan itu lebih gelap dari biasanya. Aku menarik napas lega seperti yang dilakukan ketika bangun dari mimpi buruk.

Tapi ruangan itu begitu gelap.

Aku tak bisa melihat apa-apa, seolah-olah sesuatu telah memadamkan lampunya. Aku tertawa dalam hati, menyadari bahwa aku harus menarik selimutku menutupi muka saat tidur. Selimut kapas itu terasa sejuk, tapi udara sedikit terlalu hangat, hampir menyesakkan. Tepat ketika aku hendak membuka selimut untuk mendapatkan udara, aku mendengarnya: Untuk terakhir kalinya aku mendengarnya.

Rupanya deritan napas dari pengintaiku di ujung tempat tidurku.

Ketakutan mencengkeramku, diikuti oleh rasa amarah dan putus asa. Kenapa aku tak bisa sendirian? Aku kemudian melakukan sesuatu yang sangat aneh. Aku memutuskan untuk berbicara kepadanya. Mungkin “dia” tidak bermaksud untuk menyakitiku, mungkin “dia” menyadari teror itu yang telah ia sebabkan. Tentunya seorang anak muda layak mendapatkan belas kasihan, bukan?

Saat suara napas itu semakin keras dan dekat, aku mulai menangis. Aku bisa merasakan kehadirannya di sisi lain selimutku, derit napas itu menggantung di atasku seperti angin stagnan.

Saat menangis aku mengucapkan dua kata, kata-kata yang pasti akan mengakhiri semua ini:
"Tolong berhenti".

Napas itu mulai berubah, menjadi lebih bersemangat, lebih cepat entah bagaimana. Aku bisa mendengar sesuatu yang bergerak di sampingku, berdiri sangat dekat. Suara napas itu kemudian pindah, awalnya kembali ke kaki tempat tidurku, dan kemudian perlahan-lahan pindah ke seberang ruangan, melalui pintu, ke lorong, dan kemudian pergi.

Setengah menangis, setengah gembira, aku berbaring di kegelapan, wajahku masih tertutup oleh selimut. Kau mungkin berpikir hal ini sebagai sebuah kemenangan, tapi bagiku tidak. Jika “benda” itu benar-benar nyata, aku tahu sekarang di luar sebuah bayangan keraguan bahwa niat mereka tidak disalahartikan, mereka sinting, penuh dengan kebencian. Aku biasanya tidak pernah menggunakan kata tersebut untuk menjelaskan sesuatu,  tapi dia sangat dekat dengan kejahatan seperti yang aku harap pernah datang.

Bagaimana aku tahu hal itu? Aku akan memberitahumu bagaimana caranya. Beberapa saat setelah “benda” itu nampaknya telah meninggalkan rumah, sesuatu menekan kuat di atas tubuhku, mendorong selimut dengan kekuatan besar ke wajahku. Aku bisa merasakan tangan besar dengan jari-jari yang panjang dan tipis mencengkeram selimut di sekitar tengkorakku, kuku yang tercetak padaku seperti sisi tajam pisau cukur. Aku berhasil meluncur ke celah antara tempat tidur dan dinding, dengan cepat melarikan diri, memanjat dan berteriak keluar dari kamarku dan membangunkan keluargaku.

Jangan salah, “benda” di dalam kegelapan itu mencoba mencekikku, mencekikku hingga mati.

...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Hohohoho... Untung bacanya siang *tertawa penuh kemenangan* dan yg akoh lakukan pertama adalah menyibak tirai hijau lumut yg menghalangi akses sinar matahari (o*>.<)o

Ila Ilhami mengatakan...

ekekekke.. harusnya malem eee bacanya biar greget xD