Selasa, 14 Mei 2013

[cerita terjemahan] Off the Beaten Path - Final ( Link Download eBook)

Off the Beaten Path [Final]
Written by Michael Whitehouse – Creepypasta
Originally translated by Rain
 Please take out with full credit 


 

Tapi tak ada apapun yang muncul dari sana.
Ia sudah sampai di tenda, kehabisan nafas dan ketakutan. Robert mengepak barang-barangnya secepat mungkin, menuntun sepedahnya ke atas bukit dan kembali ke jalan setapak. Setelah itu ia mengayuh sepedahnya sekencang mungkin. Berharap bisa memberi jarak yang cukup jauh antara dirinya dan hutan itu—serta penghuninya yang aneh—sebelum menemukan tempat yang lebih aman dan lebih cocok untuk berkemah.
Jalanan sepenuhnya tertutup oleh lumpur, lumpur-lumpur itu membuat Robert kotor tiap kali ia mengayuh sepedahnya ke permukaan gembur dan bergelombang. Tak biasanya cuaca buruk di waktu-waktu seperti ini.
Hujan di sertai angin ribut menerpa wajah Robert, membuat tiap kayuhan yang ia lancarkan terasa 100 kali lipat beratnya. Robert mencoba tetap mengayuh selama yang ia bisa. Mengurungkan niatan untuk berkemah sampai senja tiba, tapi selang 2 jam kemudian, hujan turun sangat deras.
Dia harus menemukan tempat untuk berteduh, dan segera bergegas.
Robert menyimpulkan, paling tidak ia harus menempuh jarak 15 mil lebih di jalur bergelombang yang memisahkan dirinya dan hutan aneh itu. Terlepas dari cukup atau tidaknya, sangat susah untuk meneruskan perjalanan di situasi seperti ini.
Di sisi kiri jalan terdapat turunan yang tak terlalu curam, menuntun Robert menuju tanah perkebunan yang lapang, tapi Robert yakin kalau tempat itu tidak menyediakan tempat berteduh yang ia butuhkan. Di sisi kanan Robert, terdapat padang rumput luas yang merambat hingga ke hutan berikutnya. Akibat pengalaman aneh yang ia alami sebelum ini, dia mungkin ragu. Tapi lagi-lagi ia menganggapnya sebagai hal yang tak masuk akal, jadi dia menarik sepedahnya ke padang rumput, lalu menuju ke dalam hutan.
Hujan deras masuk melalui celah-celah kanopi pepohonan, menghabiskan beberapa saat sebelum Robert menemukan tempat yang cocok untuk berkemah. Setelah menemukan semak belukar yang luas di bawah beberapa pohon cemara, Robert mendirikan tenda disana, tempat itu lumayan melindungi Robert dari cuaca mengerikan di luar.
Dengan menggunakan akar kayu kering, rumput dan ranting yang patah di atas tanah, dia bisa membuat api unggun untuk memasak beberapa makanan, sambil menumbuhkan semangat yang sempat hilang. Malam merambat naik. Ketika angin dan hujan agak mereda, suara sosis yang di goreng di atas api menimbulkan kenyamanan tersendiri untuk pertama kalinya sejak pengalaman mengerikan Robert sepagian tadi.
Memikirkan pengalamannya di hutan tadi, Robert berusaha rasional. Dia menemukan beberapa barang disana ; kantung tidur, baju-baju, makanan dan kaleng bir. Jelas sekali dia telah menganggu areal perkemahan seseorang. Tak di ragukan lagi orang itu takut melihat orang lain tengah berkeliaran di sekitar tendanya di tengah-tengah tempat asing.
Pasti seperti itu. Seorang lelaki, dia yakin jika itu adalah lelaki yang sedikit anggota badannya pernah ia lihat , mungkin ia bersembunyi di balik pohon karena takut atau merasa terancam. Robert menarik nafas lega, sembari menyelipkan tangannya di saku jaket. Tangannya menyentuh permukaan dingin berwarna hitam, dia sama sekali lupa dengan batu yang ia ambil dari tumpukan bebatuan ganjil tempo hari.
Robert makin mendekatkan pandangannya pada batu itu, di bantu sinar merah perapian, Robert sangat yakin jika batu itu adalah buatan manusia. Batu itu terlihat sangat tua, bahkan kuno, tapi ia harus menunggu untuk menghubungi teman arkeologinya sebelum menduga terlalu jauh. Dia harus mengakui bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang terobsesi untuk menemukan benda peninggalan dari masa lalu. Sejak kecil dia selalu tertarik dengan sejarah yang tak terungkap atau tersembunyi—yang mungkin menjelaskan minatnya untuk menjelajahi pedalaman skotlandia—sebuah daratan dengan cerita dan mitos luhur dari orang-orang tak biasa dan terlupakan. Diatas itu semua, ia berharap jika bebatuan itu adalah peninggalan suku Pictish ; penduduk asli yang misterius, mereka menghilang secara tiba-tiba ribuan tahun yang lalu. Sesuatu yang masih di teliti dan di perdebatkan oleh para ahli sejarah.
Tentu bukan tidak mungkin jika benda itu adalah tiruan bentuk modernnya, tapi sisi romantisme Robert berharap benda itu adalah sesuatu yang lain yang lebih hebat, dan Robert menikmati harapan-harapan itu.
Ketika ia mengamati bebatuan itu, sesuatu yang tak biasa membuatnya was-was ; sesuatu yang berbeda. Bukan suara yang berasal dari keretak api, hembusan angin dan suara keresak yang diciptakan oleh gerakan-gerakan hewan di hutan. Seuatu itu terasa jauh, kira-kira berapa jauh Robert tak bisa menduga, suara itu terdengar menggema melalui pegunungan dan lembah terdekat, menyeruak melalui sela-sela pepohonan di kegelapan.
Suara itu terdengar berulang-ulang dengan jeda yang sebentar ; berucap tentang beberapa penggambaran. Apa mungkin binatang? Robert tak bisa mengenalinya, meskipun ia punya pengetahuan luar biasa mengenai alam liar. Bagi Robert, suara itu punya karakteristik aneh dari makhluk asing yang tak di ketahui. Suara itu mengingatkan Robert akan suara burung pemangsa ; di bagian nada tinggi dan pekikkannya, tapi di bawah tekanan suara-suara itu, suara tadi lebih mirip dengan suara tangisan serigala yang mencari anaknya di malam hari.
Pasti, suara itu nampak sedang mencari sesuatu.
3 jam berikutnya Robert terjaga, mendengar suara itu yang timbul tenggelam ketika apapun yang membuat suara itu mendekat, lalu menjauh.
Dia mencoba untuk tidur sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda ; dia berpikir jika suara dari gerakan-gerakan itu tak seperti gerakan tim pencari, pekikan dan jeritan, mencari seseorang yang tersesat di dalam belantara.
Di bawah dinginnya sinar siang hari, suara itu menghilang. Sementara ia mulai menerima alasan bahwa apa yang membuatnya takut hanya pekemah pemalu yang waspada terharap orang asing di sekitarnya. Dia masih tak bisa mengatasi ketakutan yang datang dari dalam perutnya.
Siang berlalu dengan cepat, Robert membuat peningkatan yang bagus. Tapi sebaliknya, kegembiraannya tak lagi terlihat seperti kemarin. Seeakan racun singgah di pikiran Robert, di luar kewaspadaannya, sesuatu yang membuat semangatnya perlahan turun.
Malam ini ia berkemah di tanah terbuka, dan lagi-lagi pekikan menakutkan itu menyeruak di seluruh belantara mencari sesuatu yang hilang. Sesuatu yang berharga. Memekik dengan tingkat suara yang berbeda dari sebelumnya.
Dia mendekat.
Sekali lagi Robert tak bisa tidur dengan mudah, ia menduga telah mendengar suara langkah kak semalaman. Tapi mungkin saja itu hanya binatang malam yang berkeliaran seperti kijang yang kesepian.
Hari berikutnya, langit mendung dan berwarna abu-abu, angin dan hujan sudah reda, ingatan kemarin pun hilang juga, tapi aliran air di jalanan bergelombang masih menggenang. Robert melanjutkan perjalanan. Memilih percabangan jalan, tak berapa lama ia sadar telah menyimpang beberapa titik dari rencananya semula. Dia sangat percaya diri walau tau harus memutar jalan. Dia telah bersepedah sangat jauh—lebih dari cukup dari yang seharusnya. Bahkan ketika waktunya berhenti, ia hanya berhenti sekedarnya untuk melihat beberapa lembah  yang dalam dan puncak-puncak yang tinggi. Bagaimanapun, dia harus tetap menjaga jarak dari hutan dan belantara di sisi kiri-kanan jalan. Ketika menduga bahwa itu hanya khayalannya saja, Robert merasa ada sesuatu yang tajam melihatnya dari dalam kegelapan—mengintainya.
Hari nyaris petang, dan Robert mulai merasa lelah. Sebagian besar karena ia tak bisa beristirahat saat malam dan seharian bersepedah tanpa henti. Di lubuk hatinya, dia sedang melarikan diri dari sesuatu.
Jalan setapak yang dua jam terakhir Robert tempuh, sebagian besar rata. Tapi sekarang jalan itu melandai sangat curam di sekitar perbukitan padang rumput, menampakkan perubahan landscape yang tadinya tak terlihat. Sebuah jalan setapak panjang dan bergelombang menembus hutan cemara. Satu hal yang disadari Robert adalah jalan ini sangat ganjil. Yang lebih aneh lagi, jalan itu sangat sempit, panjangnya hanya 2. Dengan hanya merentangkan kedua tangan, kau bisa menyentuh kedua sisi hutan dengan tanganmu. Jarak yang sangat dekat ini menimbulkan perasaan ngeri dan klaustrofobia. Jika saja ia seorang tentara di medan perang, Robert akan memakai jalan sempit ini sebagai tempat yang sempurna untuk  penyergapan.
Berdiri dengan sepeda gunung hanya beberapa kaki dari ambang kedua hutan dan jalanan, Robert merasa gelisah dengan situasinya saat ini. Jelas sekali jalan ini adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari hutan. Ia sangat ragu. Robert tak tau kenapa, tapi ia benar-benar tak ingin melewati jalan setapak ini.
Bingung, ia sadar kalau jalan darimana ia datang dan daratan asing di depannya sama-sama membuat Robert ngeri. Oleh sebab itu ia menganggap ketakutannya hanya efek dari imajinasinya yang berlebihan. Perlahan tapi pasti Robert mulai menuruni jalan, berharap bisa masuk dan keluar dengan cepat dari hutan tanpa terjadi insiden apapun.
Rangkaian awan hitam menggantung di langit. Ketika Robert berusaha melewati jalan bergelombang secepat ia bisa, perasaan ngeri mau tak mau mulai bergejolak di dalam perutnya, merambat ke sekujur tubuh Robert hingga membuat bulu kuduknya meremang.
Sepanjang jalan, ia lebih banyak menunduk. Kadang-kadang melirik ke depan di mana jalan keluar dari tempat ini berada. Dia hanya ingin keluar secepat mungkin. Hanya setengah jalan menusuri setapak yang mengerikan, namun perasaan janggal menyergapnya. Sebuah sensasi yang ia rasakan beberapa hari ini, sekarang sensasi itu makin terasa nyata, menguji keberaniannya, memenuhi pikiran Robert ; perasaan seperti sedang di intai.
Robert berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Berusaha sebisa mungkin untuk membuang jauh-jauh pikiran tentang kemungkinan ia tak lagi sendiri di tempat itu.
Jalan setapak masih jauh terentang di depan. Seakan biasa bagi mereka yang berusaha mencapai tujuan untuk untuk menoleh ke belakang, memastikan sejauh mana ia telah melangkah. Dia menghitung panjang trek, merasa percaya diri karena sebentar lagi akan keluar dari jalan setapak ini.
Tapi ketika ia berpaling ke depan, sesuatu tertangkap oleh mata Robert, jauh di bawah jalan setapak di depannya. Saat itu ia berharap seandainya tak pernah memilih jalan setapak yang ia pilih ini, dan langsung pulang kerumah.
“Sesuatu” itu ada disana. Tak di ragukan lagi. Besar dan mengerikan.
Jauh di depan Robert tengah berdiri sesosok tubuh. Robert tak bisa menjelaskan ciri-ciri sosok tersebut karena mereka berdiri di sisi jalan setapak di antara kerumunan pepohonan, tertutup bayangan pohon, hal ini bukan sekedar khayalan Robert saja.
Seseorang tengah berdiri disana, mengawasi, sementara Robert berada jauh di depannya. Robert merasa jika kehadiran sosok itu hampir berada di atasnya ; pandangannya sarat dengan rasa.. well... dendam mungkin kata yang tepat jika Robert harus mendeskripsikannya.
Lalu sosok itu pergi. Menghilang ke dalam hutan. Tapi perasaan terancam dan keinginan untuk melarikan diri sama sekali tak hilang atau berkurang, bahkan makin bertambah kuat di benaknya. Suara dari sesuatu yang sedang bergerak di antara pepohonan terdengar mengisi keheningan, makin keras saat sosok itu makin dekat.
Robert panik, berbalik dan mengayuh sepedah secepat mungkin ke arah ia datang. Dia benar-benar ingin keluar dari tempat yang seluruhnya di kelilingi oleh hutan itu, hingga ia tak melihat lubang dalam di atas tanah. Roda depan Robert terperosok hingga ia terpelanting melewati setirnya, terjerembab di atas tanah.
Mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, suara acak dari ranting patah dan daun-daun yang berkeresak membuat pikiran Robert jadi fokus. Darah mengalir dari luka di kakinya, dan tangannya terluka sangat parah, tapi satu-satunya hal yang ia pedulikan hanyalah keluar dari jalan setapak mengerika itu, jauh dari siapapun yang sepertinya sedang bergerak dari dalam hutan.
Tulisan “ROB” kesayangan Robert tergores, tapi tak jadi soal. Dua jeruji roda depannya patah. Hal terakhir yang Robert inginkan adalah sampai disana, jadi ia harus mengayuh dengan hati-hati dan berharap agar rodanya tidak bengkok serta bisa bertahan cukup lama sampai ia tiba di rumah.
Rumah.
Rumah adalah tempat yang paling ia inginkan, sejak ia berada di arah yang telah ia jelajahi selama beberapa hari, tak ada lagi saat-saat seperti sekarang.
Suara-suara berkeresak dari dalam hutan berlanjut, Robert berhati-hati mengayuh di atas tanah dengan keadaan seperti itu. Robert berharap sepedah gunung andalannya bisa membawanya keluar dari sini. Walau ia mengayuh cukup pelan, suara-suara itu terdengar jauh di belakang. Ketika ia makin dekat dengan ambang hutan dan sampai di luar, dia mendengar bunyi berisik yang membuatnya ngeri.
Dari dalam hutan, terdengar suara yang pernah Robert dengar sebelumnya, jeritan dan tangisan,  menggema, menggaung-gaung di telinga Robert dan menguliti keberaniannya.
Apakah itu sosok yang berkeliaran di dekat tenda Robert semalam?
Tentu saja manusia tak bisa menghasilkan suara seperti itu!
Panik, Robert mengayuh makin cepat sehingga roda depannya bergoyang dan berdecit karena tekanan yang ditimbulkan Robert. Akhirnya, ia keluar dari tempat itu, tapi Robert tidak berhenti, tetap mengayuh berjam-jam tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Hanya jika ia yakin tak lagi di ikuti oleh penguntit, ia akan berhenti untuk istirahat.
Malam turun lagi, sekarang tiap suara, tiap bebauan, tiap bagian yang terlalu membuat belantara terasa menarik telah membawa Robert ke dalam bentuk yang sama sekali baru—bentuk yang tak menyenangkan dan berbahaya. Dia memutuskan kalau malam ini tak akan berkemah, tak ada api unggun, dan tak ada tenda. Robert yakin jika penguntitnya bisa menemukan Robert karena suara dan cahaya yang di buatnya dari malam ke malam.
Tak akan menyenangkan. Malam in akan sangat dingin, basah, dan tidak nyaman. Tapi Robert ingin agar jejaknya tak bisa di lacak. Ada beberapa jalan setapak dan bergelombang di area tersebut yang bisa ia pilih, tapi mudah-mudahan lelaki yang tengah menguntitnya tak akan bisa menemukannya.
Robert sadar betul jika jejak roda sepedahnya akan jadi petunjuk jika penguntitnya cukup cerdas untuk mengikuti Robert. Oleh karena itu ia berjalan mundur perlahan untuk membingungkan siapapun yang mengikutinya. Hal terburuk yang bisa ia lakukan adalah tidur di dekat dimana jalurnya berakhir. Mencari semak belukar rimbun untuk tidur (untung letaknya cukup jauh dari ujung jalur yang ia buat). Robert menyembunyikan dirinya dan juga sepedahnya malam ini dengan satu pertanyaan ; jika penguntit itu bisa menyamai langkahnya tiap hari, pasti dia menggunakan sepedah atau kendaraan lain, tapi dimana jejak rodanya?
Robert tak terlalu bisa tidur, sekitar jam 3 pagi, suara lengkingan makhluk asing terdengar lagi. Bergerak di area tersebut, mencari sesuatu.
Mulai sekarang Robert akan menderita karena kurangnya waktu tidur dan istirahat. Walau begitu, ketika matahari mulai muncul, ia segera mengambil sepedahnya dari tempat persembunyian dan mulai melanjutkan perjalanan lagi.
Tak ada suara apapun yang terdengar hari itu, tak ada juga bukti keberadaan penguntitnya dimanapun. Saat malam tiba, rasionalitas segera mengambil alih kengerian yang dirasakan Robert. Dia menghilangkan jejak di atas tanah sepanjang hari, dia berhati-hati dengan roda depan sepedahnya yang sesekali berderit keras.
Robert menyimpulkan jika ia telah membiarkan dirinya sendiri di asingkan oleh sekelilingnya, dan tentu saja, oleh orang aneh yang ia lihat di hutan tempo hari. Tapi mungkinkah tak masuk akal untuk meyakini bahwa ia benar-benar telah di ikuti seseorang? Bisa saja orang yang ia lihat tidaklah sama dengan yang ia temui di pulau hutan terpencil? Masuk akal jika mereka hanyalah petualang yang berbeda. Barangkali ada beberapa dari mereka di luar sana dan menjelaskan tentang suara-suara itu. Sedangkan penjelasan untuk suara-suara keresak binatang pada malam hari,  mungkin itu hanya jenis burung yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Malam itu, Robert akan membuat api unggun, dia akan memasak makanan, cukup makan, dan menikmati pedalaman terpencil seperti yang telah ia rencanakan untuk waktu yang lama sejak merencanakan waktu liburan.
Setelah menentukan titik yang cocok untuk bermalam di dalam hutan, ia benar-benar melakukan apa yang ia inginkan. Ia memasak di atas desaran api unggun dan duduk selama berjam-jam memandang langit malam dari sela-sela ranting pepohonan di atasnya. Tak ada suara, tak ada pekikkan aneh, tak ada keletukan langkah kaki di kegelapan, tak ada apapun. Yakin kalau teman yang tak ia harapakan telah jauh tertinggal di belakang, Robert tidur di dalam tenda, ia sangat butuh istirahat.
Setelah tertidur, dua jam kemudian Robert terbangun karena suara berisik sesuatu dari luar tendanya. Ia meninggalkan api unggun dalam keadaan menyala, karena merasa tak nyaman melewati malam-malam sebelumnya dalam kegelapan. Kobaran api itu nampak menari-nari, berubah bentuk di udara malam, membiaskan seluruh bayangan di kanvas tipis tenda Robert seperti layaknya layar bioskop alam.
Membiaskan satu bayangan ; bayangan dari seseorang yang duduk di sebelah api unggun.
Robert bergidik ngeri, mulutnya jadi kering dan nafasnya terengah-engah. Dia tak percaya kalau dia menjadi begitu bodoh, mempercayai jika tak ada seorangpun yang mengikutinya. Dari sinar api yang lainnya, dia telah menunjukkan pada “mereka” tempat diamana ia bermalam dan sekarang “mereka” menemukannya. Tuhan tau apa yang “mereka” inginkan!
Setelah beberapa saat berada dalam terror, Robert sadar jika ia harus melindungi diri. Duduk perlahan, membuka kantung tidur dan lolos tanpa menimbulkan suara sedikitpun, dia mengamati tenda, mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata, sialnya semua benda berat berada di dalam tasnya (senter metal, kayu yang ia ambil tempo hari, botol kaca, dll). Dengan bodohnya ia meninggalkan tas itu di luar tenda. Robert mengutuk diri sendiri atas kecerobohan yang ia lakukan, hampir tak percaya jika ia meninggalkan tasnya di luar padahal ia selalu membawanya ke dalam, jauh dari hujan dan binatang liar. Pasti karena ia terlalu lelah, tapi alasan itu tak bisa membantu situasi sekarang ini.
Lalu ia teringat, kepala kapak kuno, batu hitam yang ia temukan di area camping asing! Tentu saja,  jika ini adalah bagian kapak seperti yang ia duga, Robert mempertimbangkan jika benda ini masih berfungsi dengan baik, bahkan mungkin bisa mengakibatkan pukulan yang fatal.
Mengelus sisi tajam batu tersebut, Robert waspada, tak pernah sekalipun melepaskan pancangan matanya dari bayangan yang dibiaskan oleh api ke permukaan tenda. Untunglah pintu tenda tak tertutup. Tapi dua penutup flysheed luarnya menutupi pintu masuk, menghalangi pandangan Robert.
Dengan hanya menggunakan satu mata, Robert mengintip dari celah-celah penutup tenda, perlahan. Dia disana.  Seseorang duduk di api unggun. Dari bentuk badannya, Robert yakin dia adalah laik-laki. Bayangan dari api unggun membuatnya sulit untuk menguraikan fitur sosok itu. Yang bisa Robert lihat, bahu orang itu bidang, kuat, dan jelas jika lelaki itu telah berada di belantara untuk waktu yang lama, seperti yang terlihat dari penampilannya, ia mengenakan baju compang-camping dan kedodoran. Kepalanya tertutup uraian hitam rambut basah yang menggumpal, barangkali karena lama tak pernah di cuci.
Mengamati bagian belakang kepala lelaki itu, Robert mencoba sebisa mungkin untuk menakluka rasa takutnya. Dia membatin, dia bisa mengendap-endap ke belakang lelaki itu lalu memukulnya dengan satu pukulan ke kepala bagian belakangnya dengan batu hitam tadi. Tapi itu berpotensi jadi pembunuhan! Bahkan Robert tak tau kemungkinan lelaki itu sangat kasar, mungkin dia orang yang suka hidup berpindah-pindah, seorang gipsy, seorang penjelajah? Ya! Mungkin lebih baik menunggu, barangkali ia hanya berkeliaran di hutan, walau kelihatannya tak seperti itu.
Baru saja Robert meyakinkan diri sendiri bahwa jika lelaki itu membuat satu gerakan saja ke arah tenda, dia akan melesat keluar dan melawanya dengan jantan. Tapi Robert menyadari sesuatu. Sesuatu terasa janggal dari cara orang itu duduk. Yang pertama, dia masih duduk tenang. Sangat tenang hingga kau bakal menyangkanya sebagai patung. Tak satupun gerakan kecil yang ia buat, bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan sekalipun. Tak ada gerakan kecil, tak ada tarikan dan hembusan nafas : tak ada apapun.
Sementara ketenangan yang di tunjukkan sosok itu sangat janggal. Itu adalah pengamatan kedua Robert yang membuatnya tak nyaman. Lelaki itu duduk ke arah depan, menghadap api, tapi bentuk dan posisi tubuh bagian atas dan kepalanya seperti...ada yang salah. Nampak tidak tersambung dengan baik, sosoknya terlihat di letakkan dengan tidak alami.
Kobaran api yang di ikuti oleh biasan cahaya menunjukkan yang sebenarnya. Kobaran api menerangi area bergantian ; cahayanya melompat-lompat dari pohon ke pohon. Bahkan ke tenda Robert dan memantulkan cahayanya kembali ke sekelilingnya.
Dua titik cahaya sekejap bersinar di kegelapan, melewati segumpal rambut basah berwarna hitam. Ya, kaki lelaki itu memang menghadap api, tapi badan dan kepalanya terbalik, berputar ke bentuk makhluk-bukan-manusia. Kaki lelaki itu memang menghadap api, tapi kepala dan badannya menghadap Robert.
Dia bukan sepenuhnya manusia!!!
Berapa lama “dia” duduk disana mengamati Robert yang berada di dalam tenda, menunggu, Robert tak tau, tapi gerakan kecil dari leher makhluk itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Robert keluar dari tenda, ke dalam hutan, di penuhi oleh terror yang teramat sangat hingga nyaris menyerupai kegilaan.
Dia tak tau sudah berapa lama berlari, ataupun berapa lama ia berteriak sepanjang waktu, tapi kakinya beberapa kali tersandung di beberapa tempat dan cahaya matahari pertama kali mengintip melewati ranting-ranting rimbun di dalam hutan.
Dari kejauhan Robert bisa melihat nyala api dari api unggunnya masih menyala terang, walau ngeri karena mengetahui jika ia telah di kuntit oleh sesuatu yang bukan-manusia, dia harus mengambil sepedahnya untuk melarikan diri. Untuk sementara ia bersembunyi di balik pepohonan, di bawah semak-semak, keberaniannya benar-enar hancur, ia enggan berdekatan dengan api unggun. Persepsinya patah, tapi Robert adalah pribadi yang kuat, setelah mengumpulkan sedikit ketenangan untuk sejenak.
Langkah demi langkah waspada, dia mendekati tendanya. Tak ada tanda-tanda keberadaan apapun yang semalam duduk di dekat api—mengawasinya. Sekarang, matahari menyinari seluruh area dan setelah berunding dengan dirinya sendiri, Robert memutuskan untuk mengambil barang-barangnya, mengambil sepedahnya, dan melanjutkan perjalanan secepat mungkin keluar dari Queen Elizabeth Park.
Semua masih utuh. Bahkan Robert masih bisa tersenyum, paling tidak makhluk itu “tak menjadi pencuri”. Senyum itu memudar tatkala ia menemukan sepedahnya, tak rusak, ya, tapi cairan lengket dan berbau busuk menutupi sedel dan roda depannya.
Bukan saatnya memikirkan lumpur di sepedahnya. Sepedah ini masih bisa digunakan, itu yang terpenting. Jika saja sekarang adalah seminggu yang lalu, maka Robert akan marah melihat goresan di rongga sepedah gunung kesayangannya, tapi sekarang ia hanya ingin berada di rumah, atau paling tidak kembali ke desa Aberfoyle, ke kerumunan penduduk. Setelah membersihkan cairan pekat itu dan mengepak tenda, sekali lagi Robert melanjutkan perjalanan secepat mungkin.
Robert mengira-ngira, jika dia mengayuh dengan cepat, dia bisa kelar dari tempat mengerikan ini hanya dalam satu setengah hari, selama ia hanya beristirahat sebentar dan bersepedah selama masih ada cahaya. Cuaca tidak begitu bagus, tapi ketika hujan turun, ia akan meninggalakn bekas goresan d sepanjang area.
Ketika hari berlalu, Robert makin gelisah. Dia merasa di tekan dari segala arah, seakan-akan dia sedang melarikan diri dari sesuatu yang mengerikan—bahaya yang tak di ketahui. Pertanyaan menakutkan muncul di benaknya ; bagaiamana jika makhluk itu mengikutinya sepanjang perjalanan ke rumah? Ketika pikiran itu berputar-putar di kepalanya, tanpa sadar dia melewati puncak bukit dan terjatuh lagi, tiba-tiba mengetahui apa yang salah, dan kenapa ia merasa gelisah dari yang ia lihat sedang berdiam di depan.
Sebuah sungai membentang di depan Robert, sekumpulan air mengalir di antara rawa-rawa dan rerumputan tinggi. Di tengah-tengah sungai itu, terdapat pulau mengerikan. Tu adalah hutan dimana Robert pertama kali melihat penguntitnya, dan semuanya pun jadi masuk akal sekarang.
Sebut ini takhayul, sebut ini kebodohan membabi buta, sebut apapun yang kau mau. Robert pun tahu jika ia sama sekali tak ingin bertemu lelaki dengan tubuh janggal itu lagi. Saat kecil ia pernah di ceritakan kisah-kisah menyeramkan mengenai nisan-nisan berhantu, dan hantu dari orang-orang mati yang gentayangan dan menghantui yang hidup. Tapi ia tak terlalu menggubris cerita itu. Tidak sebelum hal ini terjadi. Ia tau, ia telah mengundang siksaan mengerikan.
Dia mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Setelah menyembunyikan sepedah di rerumputan tinggi, dengan susah payah Robert berjalan menuju hutan terpencil diaman nisan itu berada—minus satu batu aneh berwarna hitam. Dia menduga jika makhluk itu mungkin duduk di samping tempat peristirahatannya. Tapi dari sayup suara-suara dan gerakan diantara pepohonan yang tak seberapa, ia tahu “dia” tak disana.
Robert pikir Makhluk itu masih berkeliaran diluar sana—mencarinya.
Akhirnya, ia menemukan nisan itu—yang tersusun dari beberapa susuan batu dan batu besar. Setelah menemukan tempat dimana dia telah mengambil batu hitam itu, Robert memasang dan menekan batu itu sekuat ia bisa ke tempatnya semula.
Sebuah suara menggema di sisi lain hutan, Robert tak ada minat untuk berkeliaran mencari tau sumber suara. Berlari secepat mungkin melewati akar-akar pohon, lumpur, dedaunan, dan patahan ranting, dia melompati tempat gelap itu menuju tempat terbuka, di penuhi oleh rasa lega luar biasa.
Hal itu tak lama ia rasakan setelah ia kembali ke jalan setapak, mengayuh sepedahnya untuk mencari satu lagi tempat bermalam dan menuju rumah setelahnya.
Sebuah beban terangkat dari pundak Robert. Tanpa sengaja dia telah menganggu sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, sesuatu yang sukar di cerna. Dengan dia mengembalikan apa yang telah ia ambil, dia telah terbebas dari apa yang ia sebut sebagai takdir yang mengerikan, kematian, atau mungkin lebih buruk dari itu. Tak ada yang bisa menggambarkan kegembiraan dan kelegaan yang di rasakan Robert ; dia menyadari kalau iatelah menebus kesalahannya.
Malam itu Robert terbaring di dalam tenda. Saat itu gelap, dia memutuskan untuk tidak membuat api unggun—hanya agar merasa aman. Dia yakin dia hanya sendirian, bagaimanapun juga, senang mengetahui kalau dirinya telah aman ketika membayangkan tentang hari-hari berikutnya dan kenyamanan rumahnya. Pikiran yang lucu. Seorang lelaki yang selalu mengagumi pedalaman dan benci dengan kehidupan bising perkotaan, malah mencari kereta, televisi, bir, dan kasur yang hangat.
Tahun depan ia akan berlibur di pantai, berjemur di pantai selama dua minggu, dan tak akan pergi terlalu jauh dari tanah kelahirannya.
Robert menutup matanya dengan sesungging senyum.
Suara-suara yang ia dengar dari luar selama beberapa malam tiba-tiba bersuara dengan sangat mengerikan dan dengan volum yang amat keras. Tanpa membuka mata, Robert sudah tau. Suara itu tidak datang dari hutan, suara itu datang dari dalam tendanya.
Robert Francis tidak pernah terlihat ataupun terdengar lagi.
Skotlandia memang tua. Dia punya sejarah kuno dan tersembunyi tentang penduduk dan tempat-tempat yang lama terlupakan. Tapi mungkin beberapa sisanya masih eksis, terisolasi, dan sendirian di dalam buasnya belantara. Jasi, jika kau pernah berkeinginan untuk menjelajahi perbukiatn, hutan-hutan, atau danau di negara tua ini camkan hal ini baik-baik : jika kau menemukan tumpukan batu yang nyaris seperti nisan, dan di kelilingi oleh benda-benda modern—kantung tidur, kaleng makanan, atau bahkan sepedah tua dengan tulisan “ROB” di rongganya—berjalanlah terus ke depan, jangan sekali-kali menengok ke belakang. Jangan sentuh apapun walaupun itu hanyalah batu hitam yang janggal, atau potongan kecil kayu-kayu di hutan.
Yang lebih penting lagi, jangan pernah mengambil satu benda pun, sesuatu yang berdiam di tidurnya mungkin akan mengambil sesuatu darimu

THE END

  Link download eBook - Off the Beaten Path - Mediafire

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Ha-ha-ha... Selesai juga :-) dari tadi baca bolak-balik ke fb, gara2 ngeri. Mantap cu, sensasinya takut tapi penasaran gimana akhirnya._.
Jadi si robertnya mati? Atau sebenernya "dia" yg menguntit adalah hantunya sendiri? Wkwk..

Rain mengatakan...

Robert nya wafat kek :D
jangankan kakek, aku yang ngerjain nih aja sampe hampir sakit jantung, deg2an mulu, tangan kiri ngikut nyeri xDDD

Vhae Vhavha mengatakan...

aq grab it y. hehe
biar bsa bca smbil off. thanks for translate ny. .fufu

Ila Ilhami mengatakan...

Yosh, makasih juga buat reviewnya :D