Sabtu, 19 Desember 2015

Imaginary Friends part III



IMAGINARY FRIENDS part 3
Teman Khayalan (Kumpulan Kisah Nyata)
Source : scaryforkids
Translated by : Rainila


Dissaga
Saudariku menikah saat berumur 18 tahun. Dia mempunyai anak bernama Suzy. Suaminya pengangguran. Jadi dia menjalani 2 pekerjaan untuk menopang hidupnya, anaknya dan suaminya yang pemalas. Setiap hari, dia keluar jam 8 pagi dan pulang jam 8 malam.
Di waktu-waktu itu, Suzy punya teman khayalan. Dia bilang pada saudariku bahwa nama gadis kecil itu adalah “Dissaga”. Suzy terus bicara soal “Dissaga” sepanjang waktu. Bahkan saudariku kerap mendengar anaknya bicara pada “Dissaga”. Hal itu membuatnya ngeri hingga akhirnya dia melarang Suzy untuk berbicara mengenai “Dissaga”. Kami dilarang menyebut “Dissaga” saat kami berkunjung kesana.
Suatu hari Suzy bicara pada ibunya, “Dissaga marah karna kau tak percaya kalau dia nyata. Dia datang untuk bermain denganku saat Ayah menutup pintu lemari setelah Ibu pergi, dan Ayah membiarkan kami keluar sebelum Ibu pulang...”
Saudariku benar-benar tak tau apa yang tengah terjadi. Seharusnya suaminya menjaga Suzy selama dia pergi. Tapi suaminya malah mengunci anaknya di dalam lemari dengan sekotak sereal dan meninggalkannya disana seharian. Saat saudariku mengetahui yang sebenarnya, dia usir suaminya.
Menakutkan, bukan? Gadis malang itu menghabiskan waktunya sendirian, terkunci di dalam lemari, hingga dia menciptakan teman kahayalan untuk menemaninya. Tapi tunggu, itu bukan bagian yang paling menyeramkan.
Saudariku bercerai dari suaminya dan mendapat hak asuh Suzy. Dia memutuskan untuk pindah dari rumah yang mereka sewa. Saat van datang, pria tua—si pemilik rumah—datang untuk membantunya. Dia bicara pada saudariku, “Aku selalu khawatir pada anakmu yang di lantai basement sana. Cucuku jatuh di basement itu dan menyebabkan lehernya patah. Dia meninggal di depan lemari disana.”
Saat dia mendengar hal itu, dia merasa ngeri. “Siapa namanya?” Tanyanya. “Bukan Dissaga kan?”
Pria tua itu melihatnya dan berkata, “Namanya Jessica. Umurnya hanya 4 tahun. Dia tak bisa bicara dengan jelas... bagaimana kau tau caranya menyebut nama? Dissaga! BAGAIMANA KAU TAU?”
Saudariku mencoba menyangkal. Dia bilang dia tak tau apa yang pria tua itu katakan. Dia menolak untuk membahasnya, segera mengangkut barang terakhirnya dan meninggalkan rumah itu demi kebaikan semuanya.
Sampai sekarang, kami tetap tak boleh membahas mengenai Suzy dan teman khayalannya “Dissaga.” Saudariku menikah lagi beberapa tahun kemudian. Suzy punya Ayah baru yan hebat dan, sejauh ini, mereka hidup bahagia.

They Were Both Dead (Mereka Berdua Meninggal)
Aku pernah menjaga seorang anak kecil yang punya dua teman khayalan. Dia bilang bahwa mereka berdua telah meninggal. Yang satu wanita tua dan satunya lagi tak punya kepala. Keduanya berlumuran darah. Salah satu yang tak punya kepala nampak jeroan tubuhnya menyembul dari lehernya setelah dia bilang begitu aku tak bertanya apapun lagi padanya.

Icy Wants Me To Tell You (Icy Ingin Aku Memberitahumu)
Teman baikku punya adik perempuan berusia sekitar 5 atau 6 tahun. Dia punya teman khayalan bernama Icy. Suatu hari, aku sedang menunggu temanku turun ke bawah saat adiknya menghampiriku dan berkata, “Icy menyuruhku untuk bertanya apa kau tau kapan kau akan mati.” Aku tertawa dengan gugup, tapi kuikuti permainannya, “Tentu saja tidak,” Kataku. “Tak ada seorangpun yang tau. Kuharap aku tak akan mati sampai aku sangat tua.” Gadis kecil itu menggeleng dengan sedih dan berkata, “Tidak, Icy ingin aku memberitaumu, kau akan mati malam ini.” Dan dia pergi begitu saja.

Jinn (Jin)
Orangtuaku bercerita aat aku berusia 3 atau 4 tahun aku punya teman khayalan bernama ‘jinn’. Aku bilang pada mereka bahwa Jinn adalah sesosok wanita tua dan dia tinggal di kebun belakang rumah kami. Orangtuaku bilang kalau aku berbicara mengenai Jinn setiap waktu dan aku memperingatkan mereka agar tak mengijinkan Jinn masuk ke rumah. Orangtuaku sangat takut sampai mereka perki ke pastur untuk minta saran. Dia bilang pada mereka kalau nama itu begitu familiar dan bilang dia akan mencari tau. Dia bercerita pada teman muslim dan berkata bahwa, dalam kepercayaan Islam, Jin adalah setan yang bisa menyerupai manusia atau benda mati. Bersamaan dengan munculnya Jinn, kakekku membawakan kami meja buatan tangan dari Saudi Arabia selama perjalanan militernya dan memberinya pada orangtuaku sebagai hadiah. Mereka menaruhnya di pekarangan. Ayahku ingin lepas dari benda itu. Dia berencana untuk menjualnya tapi Pastur menyuruh ayahku untuk membakarnya. Ayahku melakukannya dan sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat atau berbicara mengenai si wanita tua tersebut.

They Won’t Be Laughing (Mereka Tak Akan Tertawa)
Saat aku kecil, aku pindah ke kota baru karena aku tak pernah benar-benar punya teman, aku menciptakan teman khayalanku sendiri. Aku selalu takut ditertawakan dan dikucilkan. Aku punya keyakinan bahwa siapapun yang jahat padaku akan masuk neraka dan terbakar didalamnya. Suatu hari, orangtuaku pergi dan nenekku membuat makan malam. Dia tak tau soal teman khayalanku. Aku melihat ke arah kursi kosong disebelahku dan berkata, “Hey, kau tak lapar? Makanlah! Mereka mungkin saja tertawa sekarang, tapi tak lagi saat mereka terbakar habis di neraka!” Nenek melihatku dengan tatapan aneh dan selama tahun-tahun setelahnya, dia mencoba meyakinkan ibuku bahwa aku dirasuki setan.

Spooky Guy
Sebagai anak kecil, aku punya teman khayalan yang merupakan hantu. Aku memanggilnya Spooky Guy dan kuberitau ibuku dia mati di garasi rumah yang berada di bukit belakang rumah kami. Dia berumur 16 tahun saat mengalami kecelakaan motor. Dia berjalan ke rumah itu dan ingin menggunakan teleponnya. Orang yang tinggal disana mengangkapnya dan membunuhnya di garasi. Hal itu membuat ibuku ketakutan sampai dia harus mencari tau sejarah rumah itu dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, serta dia membuatku pergi ke terapis.

It is the Punishment ( Ini Hukuman )
Seorang teman keluarga memintaku untuk menjaga anak lelakinya yang berumur 6 tahun. Aku mengendongnya ke kasur dan dua jam kemudian aku memutukan untuk memeriksanya. Saat aku membuka pintu, kulihat dia sedang berdiri di pojok kamar, menghadap ke dinding. Itu salah satu hal paling mengerikan yang pernah kulihat. Aku bertanya apa yang sedang dia lakukan dan yang dia lakukan hanya menoleh dengan jari di bibirnya seolah berkata “Ssshhh”. Aku bertanya lagi apa yang sedang dia lakukan dan dia menjawab, “Ini hukuman...”

Bee-jebuh
Saat sepupuku masih kecil, dia punya teman khayalan. Dia memanggilnya “Bee-jebuh”. Dia berkata bahwa Bee-jebuh adalah seekor monster dan kadang-kadang dia menyuruhnya melakukan hal buruk. Setelah beberapa minggu, ibunya melarangnya untuk membahas soal Bee-jebuh lagi. belakangan aku tau, nama yang coba sepupuku ucapkan adalah “Bellzebub.”

Andy
Aku tinggal di rumah 3 tingkat dengan sebuah loteng tersembunyi. Loteng ini selalu memberi perasaan buruk. Satu-satunya jalan menuju loteng adalah melewati panel tersembunyi di langit-langit. Kau harus mendorongnya dan sebuah tangga yang bisa ditarik dan di dorong pun keluar.
Suatu hari, saudariku datang berkunjung dan dia membawa keponakanku bersamanya. Umurnya 5 tahun dan ini pertama kalinya dia datang kemari. Ada sekelompok orang di rumah. Kami malan malam bersama dan kemudian, kami duduk-duduk di dapur berbincang-bincang. Lalu kami menyadari keponakanku tidak ada dimanapun. Kami mulai memanggil namanya dan mencari kemanapun. Ada 9 orang berlarian keseluruh penjuru rumah, meneriakkan namanya dan berputar-putar mencarinya. Aku memerika keluar jalan, garasi, lantai bawah, lantai atas. Tak ada tanda-tanda kehadirannya. Seolah-olah dia menghilang begitu saja.
Kami hendak memangil polisi dan aku berdiri di koridor lantai atas. Lalu saat itu, panel langit-langit di atasku terbuka dan kulihat keponakan kecilku disana. Pandangannya kosong dan tak nampak adanya emosi di matanya. Aku menarik tangga ke bawah dan menggendongnya turun. “Bagaimana bisa kau di atas sana?” Kataku, “Kenapa kau tak menyahut saat kami panggil?”
Anak itu melihatku tepat di kedua mataku dan berkata, “Aku baru saja bermain dengan Andy disana. Dia memperlihatkan tangga itu padaku dan menyuruhku diam karena kami bermain petak umpet.” Tak mungkin dia bisa tau soal loteng tersembunyi dan tak mungkin dia bisa meraih panel untuk menarik tangga. Sejak saat itu, aku menjauhi loteng.

Red Glowing Eyes (Mata yang Merah Menyala)
Saat anakku berusia 4 tahun, dia bercerita dia punya teman khayalan yang duduk di pojok gelap dan menerangi ruangan dengan matanya yang merah menyala.

Facey
Ketika aku berusia 3 tahun, aku punya teman khayalan bernama Facey. Kapanpun aku menggambar sosoknya, selalu tanpa wajah. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Ibuku bertanya kenapa dia tak punya wajah dan aku menjawab, “Dia sudah mati jadi ia tidak boleh punya wajah.”

Berret
Di malam yang lain, aku sedang makan malam dengan orangtuaku. Kami berbincang mengenai rumah dimana aku tumbuh. Aku berkata betapa aku menyukai rumah itu dan aku ingat saat-saat bermain dengan anak lelaki yang tinggal di sebelah rumah. Namanya Berret dan dia mengajariku bagaimana bermain kartu. Orangtuaku berkata bahwa rumah sebelah sebenarnya kosong dan Berret adalah nama teman imajinasiku. Ku pikir dia nyata...menakutkan.

Harold
Aku punya teman khayalan saat berumur 5 tahun. Tiap malam, dia akan duduk di ujung ranjang, bicara padaku selama berjam-jam. Suatu malam, ibuku masuk dan melihatku duduk diatas ranjang, berbisik pada seseorang. Dia bertanya dengan siapa aku bicara dan dengan cuek aku menjawab, “Harold”. Dia ketakutan dan  membawaku ke kamarnya. Dia memelukku. Tubuhnya bergetar dan wajahnya memucat. Belakangan aku tau, Harold adalah nama paman dari ayah tiriku dan dia meninggal di kamarku beberapa tahun lalu.  Tak mungkin aku kenal dia. Dan penggambaran yang aku jabarkan sama persis dengan dia. Aku selalu mengalami mimpi aneh ketika tidur di kamar itu.

Elizabeth
Saat aku kecil, kami tinggal di tempat yang jauh dari mana-mana. Jarak antar rumah begitu jauh. Kapanpun orangtuaku mengajakku untuk mengunjungi nenek, kami pasti melewati sebuah rumah kecil diseberang jalan yang berlumpur. Tiap kali kami melewati rumah itu, aku bilang pada orangtuaku, “Saudaraku tinggal disana!” aku tak punya saudara. Aku anak tunggal. Setelah mendengar ucapanku berkali-kali, akhirnya mereka bertanya iapa nama “saudara”ku. Ku bilang namanya Elizabeth. Mereka menertawakanku, sampai suatu hari ibuku yang penasaran memutuskan untuk mencari tau siapa yang tinggal di rumah itu. Dia menemukan fakta bahwa beberapa tahun yang lalu, ada seorang gadis yang pernah tinggal disana dan dia meninggal saat usianya masih sangat muda. Namanya Elizabeth.

Carson
Saat aku maih berumur 4 atau 5 tahun, aku punya teman khayalan. Dia punya bintik-bintik di wajah, berambut keritin panjang dan bermata biru-hijau pucat. Aku tak mengenalnya dan aku tak bicara padanya, tapi dia selalu muncul. Suatu hari, aku penasaran dan bertanya siapa namanya. Katanya “Carson”. Kubilang OK dan dia pergi. aku tak ingat pernah melihatnya lagi. Bertahun-tahun kemudian, ibuku menganggap bahwa aku sudah cukup umur untuk mengetahui sesuatu. Dia berkata bahwa sebelum aku lahir, dia punya bayi lain, tapi dia meninggal setelah 4 jam dilahirkan. Namanya Carson.





Tidak ada komentar: