IMAGINARY FRIENDS part 3
Teman Khayalan (Kumpulan Kisah Nyata)
Source : scaryforkids
Translated by : Rainila
Dissaga
Saudariku menikah saat
berumur 18 tahun. Dia mempunyai anak bernama Suzy. Suaminya pengangguran. Jadi
dia menjalani 2 pekerjaan untuk menopang hidupnya, anaknya dan suaminya yang
pemalas. Setiap hari, dia keluar jam 8 pagi dan pulang jam 8 malam.
Di waktu-waktu itu,
Suzy punya teman khayalan. Dia bilang pada saudariku bahwa nama gadis kecil itu
adalah “Dissaga”. Suzy terus bicara soal “Dissaga” sepanjang waktu. Bahkan saudariku
kerap mendengar anaknya bicara pada “Dissaga”. Hal itu membuatnya ngeri hingga
akhirnya dia melarang Suzy untuk berbicara mengenai “Dissaga”. Kami dilarang
menyebut “Dissaga” saat kami berkunjung kesana.
Suatu hari Suzy bicara
pada ibunya, “Dissaga marah karna kau tak percaya kalau dia nyata. Dia datang
untuk bermain denganku saat Ayah menutup pintu lemari setelah Ibu pergi, dan
Ayah membiarkan kami keluar sebelum Ibu pulang...”
Saudariku benar-benar
tak tau apa yang tengah terjadi. Seharusnya suaminya menjaga Suzy selama dia
pergi. Tapi suaminya malah mengunci anaknya di dalam lemari dengan sekotak
sereal dan meninggalkannya disana seharian. Saat saudariku mengetahui yang
sebenarnya, dia usir suaminya.
Menakutkan, bukan?
Gadis malang itu menghabiskan waktunya sendirian, terkunci di dalam lemari,
hingga dia menciptakan teman kahayalan untuk menemaninya. Tapi tunggu, itu
bukan bagian yang paling menyeramkan.
Saudariku bercerai dari
suaminya dan mendapat hak asuh Suzy. Dia memutuskan untuk pindah dari rumah
yang mereka sewa. Saat van datang, pria tua—si pemilik rumah—datang untuk
membantunya. Dia bicara pada saudariku, “Aku selalu khawatir pada anakmu yang
di lantai basement sana. Cucuku jatuh di basement itu dan menyebabkan lehernya
patah. Dia meninggal di depan lemari disana.”
Saat dia mendengar hal
itu, dia merasa ngeri. “Siapa namanya?” Tanyanya. “Bukan Dissaga kan?”
Pria tua itu melihatnya
dan berkata, “Namanya Jessica. Umurnya hanya 4 tahun. Dia tak bisa bicara
dengan jelas... bagaimana kau tau caranya menyebut nama? Dissaga! BAGAIMANA KAU
TAU?”
Saudariku mencoba
menyangkal. Dia bilang dia tak tau apa yang pria tua itu katakan. Dia menolak
untuk membahasnya, segera mengangkut barang terakhirnya dan meninggalkan rumah
itu demi kebaikan semuanya.
Sampai sekarang, kami
tetap tak boleh membahas mengenai Suzy dan teman khayalannya “Dissaga.”
Saudariku menikah lagi beberapa tahun kemudian. Suzy punya Ayah baru yan hebat
dan, sejauh ini, mereka hidup bahagia.
They
Were Both Dead (Mereka Berdua Meninggal)
Aku pernah menjaga
seorang anak kecil yang punya dua teman khayalan. Dia bilang bahwa mereka
berdua telah meninggal. Yang satu wanita tua dan satunya lagi tak punya kepala.
Keduanya berlumuran darah. Salah satu yang tak punya kepala nampak jeroan
tubuhnya menyembul dari lehernya setelah dia bilang begitu aku tak bertanya
apapun lagi padanya.
Icy
Wants Me To Tell You (Icy Ingin Aku Memberitahumu)
Teman baikku punya adik
perempuan berusia sekitar 5 atau 6 tahun. Dia punya teman khayalan bernama Icy.
Suatu hari, aku sedang menunggu temanku turun ke bawah saat adiknya
menghampiriku dan berkata, “Icy menyuruhku untuk bertanya apa kau tau kapan kau
akan mati.” Aku tertawa dengan gugup, tapi kuikuti permainannya, “Tentu saja
tidak,” Kataku. “Tak ada seorangpun yang tau. Kuharap aku tak akan mati sampai
aku sangat tua.” Gadis kecil itu menggeleng dengan sedih dan berkata, “Tidak,
Icy ingin aku memberitaumu, kau akan mati malam ini.” Dan dia pergi begitu
saja.
Jinn
(Jin)
Orangtuaku bercerita
aat aku berusia 3 atau 4 tahun aku punya teman khayalan bernama ‘jinn’. Aku
bilang pada mereka bahwa Jinn adalah sesosok wanita tua dan dia tinggal di kebun
belakang rumah kami. Orangtuaku bilang kalau aku berbicara mengenai Jinn setiap
waktu dan aku memperingatkan mereka agar tak mengijinkan Jinn masuk ke rumah.
Orangtuaku sangat takut sampai mereka perki ke pastur untuk minta saran. Dia
bilang pada mereka kalau nama itu begitu familiar dan bilang dia akan mencari
tau. Dia bercerita pada teman muslim dan berkata bahwa, dalam kepercayaan
Islam, Jin adalah setan yang bisa menyerupai manusia atau benda mati. Bersamaan
dengan munculnya Jinn, kakekku membawakan kami meja buatan tangan dari Saudi
Arabia selama perjalanan militernya dan memberinya pada orangtuaku sebagai
hadiah. Mereka menaruhnya di pekarangan. Ayahku ingin lepas dari benda itu. Dia
berencana untuk menjualnya tapi Pastur menyuruh ayahku untuk membakarnya.
Ayahku melakukannya dan sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat atau
berbicara mengenai si wanita tua tersebut.
They
Won’t Be Laughing (Mereka Tak Akan Tertawa)
Saat aku kecil, aku
pindah ke kota baru karena aku tak pernah benar-benar punya teman, aku
menciptakan teman khayalanku sendiri. Aku selalu takut ditertawakan dan
dikucilkan. Aku punya keyakinan bahwa siapapun yang jahat padaku akan masuk
neraka dan terbakar didalamnya. Suatu hari, orangtuaku pergi dan nenekku
membuat makan malam. Dia tak tau soal teman khayalanku. Aku melihat ke arah
kursi kosong disebelahku dan berkata, “Hey, kau tak lapar? Makanlah! Mereka
mungkin saja tertawa sekarang, tapi tak lagi saat mereka terbakar habis di neraka!”
Nenek melihatku dengan tatapan aneh dan selama tahun-tahun setelahnya, dia
mencoba meyakinkan ibuku bahwa aku dirasuki setan.
Spooky
Guy
Sebagai anak kecil, aku
punya teman khayalan yang merupakan hantu. Aku memanggilnya Spooky Guy dan
kuberitau ibuku dia mati di garasi rumah yang berada di bukit belakang rumah
kami. Dia berumur 16 tahun saat mengalami kecelakaan motor. Dia berjalan ke
rumah itu dan ingin menggunakan teleponnya. Orang yang tinggal disana
mengangkapnya dan membunuhnya di garasi. Hal itu membuat ibuku ketakutan sampai
dia harus mencari tau sejarah rumah itu dan melihat apa yang sebenarnya
terjadi, serta dia membuatku pergi ke terapis.
It
is the Punishment ( Ini Hukuman )
Seorang teman keluarga
memintaku untuk menjaga anak lelakinya yang berumur 6 tahun. Aku mengendongnya
ke kasur dan dua jam kemudian aku memutukan untuk memeriksanya. Saat aku
membuka pintu, kulihat dia sedang berdiri di pojok kamar, menghadap ke dinding.
Itu salah satu hal paling mengerikan yang pernah kulihat. Aku bertanya apa yang
sedang dia lakukan dan yang dia lakukan hanya menoleh dengan jari di bibirnya
seolah berkata “Ssshhh”. Aku bertanya lagi apa yang sedang dia lakukan dan dia
menjawab, “Ini hukuman...”
Bee-jebuh
Saat sepupuku masih
kecil, dia punya teman khayalan. Dia memanggilnya “Bee-jebuh”. Dia berkata
bahwa Bee-jebuh adalah seekor monster dan kadang-kadang dia menyuruhnya
melakukan hal buruk. Setelah beberapa minggu, ibunya melarangnya untuk membahas
soal Bee-jebuh lagi. belakangan aku tau, nama yang coba sepupuku ucapkan adalah
“Bellzebub.”
Andy
Aku tinggal di rumah 3
tingkat dengan sebuah loteng tersembunyi. Loteng ini selalu memberi perasaan
buruk. Satu-satunya jalan menuju loteng adalah melewati panel tersembunyi di
langit-langit. Kau harus mendorongnya dan sebuah tangga yang bisa ditarik dan
di dorong pun keluar.
Suatu hari, saudariku
datang berkunjung dan dia membawa keponakanku bersamanya. Umurnya 5 tahun dan
ini pertama kalinya dia datang kemari. Ada sekelompok orang di rumah. Kami
malan malam bersama dan kemudian, kami duduk-duduk di dapur berbincang-bincang.
Lalu kami menyadari keponakanku tidak ada dimanapun. Kami mulai memanggil
namanya dan mencari kemanapun. Ada 9 orang berlarian keseluruh penjuru rumah,
meneriakkan namanya dan berputar-putar mencarinya. Aku memerika keluar jalan,
garasi, lantai bawah, lantai atas. Tak ada tanda-tanda kehadirannya.
Seolah-olah dia menghilang begitu saja.
Kami hendak memangil
polisi dan aku berdiri di koridor lantai atas. Lalu saat itu, panel
langit-langit di atasku terbuka dan kulihat keponakan kecilku disana.
Pandangannya kosong dan tak nampak adanya emosi di matanya. Aku menarik tangga
ke bawah dan menggendongnya turun. “Bagaimana bisa kau di atas sana?” Kataku,
“Kenapa kau tak menyahut saat kami panggil?”
Anak itu melihatku
tepat di kedua mataku dan berkata, “Aku baru saja bermain dengan Andy disana.
Dia memperlihatkan tangga itu padaku dan menyuruhku diam karena kami bermain
petak umpet.” Tak mungkin dia bisa tau soal loteng tersembunyi dan tak mungkin
dia bisa meraih panel untuk menarik tangga. Sejak saat itu, aku menjauhi
loteng.
Red
Glowing Eyes (Mata yang Merah Menyala)
Saat anakku berusia 4
tahun, dia bercerita dia punya teman khayalan yang duduk di pojok gelap dan
menerangi ruangan dengan matanya yang merah menyala.
Facey
Ketika aku berusia 3
tahun, aku punya teman khayalan bernama Facey. Kapanpun aku menggambar
sosoknya, selalu tanpa wajah. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Ibuku
bertanya kenapa dia tak punya wajah dan aku menjawab, “Dia sudah mati jadi ia
tidak boleh punya wajah.”
Berret
Di malam yang lain, aku
sedang makan malam dengan orangtuaku. Kami berbincang mengenai rumah dimana aku
tumbuh. Aku berkata betapa aku menyukai rumah itu dan aku ingat saat-saat
bermain dengan anak lelaki yang tinggal di sebelah rumah. Namanya Berret dan
dia mengajariku bagaimana bermain kartu. Orangtuaku berkata bahwa rumah sebelah
sebenarnya kosong dan Berret adalah nama teman imajinasiku. Ku pikir dia
nyata...menakutkan.
Harold
Aku punya teman
khayalan saat berumur 5 tahun. Tiap malam, dia akan duduk di ujung ranjang,
bicara padaku selama berjam-jam. Suatu malam, ibuku masuk dan melihatku duduk
diatas ranjang, berbisik pada seseorang. Dia bertanya dengan siapa aku bicara
dan dengan cuek aku menjawab, “Harold”. Dia ketakutan dan membawaku ke kamarnya. Dia memelukku.
Tubuhnya bergetar dan wajahnya memucat. Belakangan aku tau, Harold adalah nama
paman dari ayah tiriku dan dia meninggal di kamarku beberapa tahun lalu. Tak mungkin aku kenal dia. Dan penggambaran
yang aku jabarkan sama persis dengan dia. Aku selalu mengalami mimpi aneh
ketika tidur di kamar itu.
Elizabeth
Saat aku kecil, kami
tinggal di tempat yang jauh dari mana-mana. Jarak antar rumah begitu jauh.
Kapanpun orangtuaku mengajakku untuk mengunjungi nenek, kami pasti melewati
sebuah rumah kecil diseberang jalan yang berlumpur. Tiap kali kami melewati
rumah itu, aku bilang pada orangtuaku, “Saudaraku tinggal disana!” aku tak
punya saudara. Aku anak tunggal. Setelah mendengar ucapanku berkali-kali,
akhirnya mereka bertanya iapa nama “saudara”ku. Ku bilang namanya Elizabeth.
Mereka menertawakanku, sampai suatu hari ibuku yang penasaran memutuskan untuk
mencari tau siapa yang tinggal di rumah itu. Dia menemukan fakta bahwa beberapa
tahun yang lalu, ada seorang gadis yang pernah tinggal disana dan dia meninggal
saat usianya masih sangat muda. Namanya Elizabeth.
Carson
Saat aku maih berumur 4
atau 5 tahun, aku punya teman khayalan. Dia punya bintik-bintik di wajah,
berambut keritin panjang dan bermata biru-hijau pucat. Aku tak mengenalnya dan
aku tak bicara padanya, tapi dia selalu muncul. Suatu hari, aku penasaran dan
bertanya siapa namanya. Katanya “Carson”. Kubilang OK dan dia pergi. aku tak
ingat pernah melihatnya lagi. Bertahun-tahun kemudian, ibuku menganggap bahwa
aku sudah cukup umur untuk mengetahui sesuatu. Dia berkata bahwa sebelum aku
lahir, dia punya bayi lain, tapi dia meninggal setelah 4 jam dilahirkan.
Namanya Carson.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar